MBG Jadi Bisnis Baru Politikus Kuningan?

Program Nasional, Peluang Lokal


Program MBG yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) sejak awal memang didesain untuk mengatasi masalah gizi dan stunting sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi lokal. Setiap sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA di berbagai daerah mendapat jatah makanan bergizi setiap hari. Kebutuhan inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk kontrak kerja sama dengan dapur penyedia.


Di Kuningan, jumlah penerima manfaat terus bertambah seiring meluasnya cakupan program. Setiap kecamatan rata-rata membutuhkan ribuan paket makanan setiap hari, sehingga kehadiran dapur MBG menjadi sangat vital. Tidak semua pihak mampu mengelola logistik dalam jumlah besar, mulai dari belanja bahan, proses memasak, hingga distribusi tepat waktu. Kondisi ini akhirnya membuka peluang bagi pihak-pihak yang punya sumber daya.


Para politikus, dengan jaringan yang luas dan kemampuan modal, kemudian masuk ke celah tersebut. Ada yang secara terbuka mendirikan dapur MBG atas nama keluarga atau perusahaan, ada pula yang berinvestasi lewat koperasi maupun UMKM binaan. Dengan cara itu, mereka bisa mengamankan posisi dalam rantai distribusi program MBG tanpa harus tampil langsung di depan publik.


Kehadiran politikus dalam bisnis MBG membuat program ini bukan sekadar agenda sosial, melainkan juga peluang ekonomi lokal yang menjanjikan. Skala pesanan yang besar, kepastian pasar dari pemerintah, dan potensi jangka panjang membuat dapur MBG dipandang sebagai “ladang emas baru” di tengah masyarakat Kuningan.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup