Editorial: Jika Tan Malaka Hidup Hari Ini…

KUNINGANSATU.COM – Barangkali jika Tan Malaka masih hidup dan berdiri di tengah Indonesia tahun 2026, ia tidak akan menangis karena kemiskinan semata. Ia akan menangis melihat bagaimana republik yang dulu diperjuangkannya dengan pengasingan, penjara, dan darah, kini semakin jauh dari cita-cita yang pernah ia rumuskan hampir satu abad lalu.

Tan Malaka adalah salah satu pemikir pertama yang secara tertulis menggagas Negara Republik Indonesia melalui bukunya Naar de Republiek Indonesia pada 1925. Karena gagasan itulah ia dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Ia membayangkan sebuah republik yang berdiri di atas kedaulatan rakyat, keadilan sosial, rasionalitas berpikir, dan keberanian melawan segala bentuk penindasan.

Namun, apa yang terjadi hari ini?

Di saat rakyat dipaksa menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, nilai tukar rupiah justru terpuruk hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS. Bahkan pada awal Juni 2026 rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.900 per dolar AS, sementara laporan internasional mencatat pelemahan hingga rekor terendah sekitar Rp18.190 per dolar AS. Kondisi ini memaksa Bank Indonesia melakukan kenaikan suku bunga darurat untuk menahan tekanan terhadap mata uang nasional.

Bagi rakyat kecil, angka-angka itu bukan sekadar statistik ekonomi. Rupiah yang melemah berarti harga pangan naik, biaya produksi meningkat, daya beli menurun, dan masa depan menjadi semakin mahal.

Tan Malaka pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan politik tidak ada artinya tanpa kemerdekaan ekonomi. Republik tidak boleh hanya menjadi alat segelintir elite, tetapi harus menjadi rumah bagi kesejahteraan seluruh rakyat.

Ironisnya, ketika rakyat membutuhkan pengelolaan anggaran yang bersih dan efektif, Indonesia justru diguncang dugaan korupsi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah. Kejaksaan Agung menetapkan sejumlah mantan pejabat Badan Gizi Nasional sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi tata kelola program tersebut. Publik dikejutkan oleh berbagai pengadaan yang diduga tidak relevan dengan tujuan utama program.

Betapa menyakitkan kenyataan itu.

Program yang seharusnya menjadi simbol keberpihakan kepada anak-anak Indonesia justru terseret dalam pusaran dugaan penyalahgunaan kekuasaan. Uang yang mestinya menjadi gizi berubah menjadi bancakan.

Bukankah ini yang dahulu paling ditentang Tan Malaka?

Ia boleh berbeda pandangan politik dengan banyak tokoh sezamannya, tetapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah keyakinannya bahwa negara harus hadir untuk rakyat, bukan untuk kelompok yang memanfaatkan kekuasaan.

Di sisi lain, masyarakat juga harus menghadapi penyesuaian harga energi dan meningkatnya berbagai biaya hidup. Meskipun tidak semua jenis BBM mengalami kenaikan, sejumlah produk bahan bakar non-subsidi mengalami perubahan harga yang semakin menambah beban ekonomi masyarakat.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja tidak tumbuh secepat harapan, dan korupsi masih menjadi berita sehari-hari, maka yang sesungguhnya sedang mengalami krisis bukan hanya ekonomi.

Yang mengalami krisis adalah kepercayaan.

Dan republik tanpa kepercayaan rakyat hanyalah bangunan kosong yang berdiri tanpa jiwa.

Tan Malaka telah dibunuh secara fisik pada 1949. Sejarah mencatat ia tewas tanpa pernah memperoleh ruang yang layak dalam narasi resmi republik selama puluhan tahun. Namun yang lebih tragis adalah ketika pemikirannya ikut dibunuh perlahan-lahan.

Pemikiran tentang keberanian mengkritik kekuasaan.

Pemikiran tentang republik yang berpihak kepada rakyat.

Pemikiran tentang akal sehat sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Pemikiran tentang negara yang bebas dari korupsi dan feodalisme politik.

Hari ini Indonesia tidak kekurangan gedung pemerintahan. Tidak kekurangan slogan. Tidak kekurangan seremoni. Tetapi republik ini semakin kekurangan keteladanan.

Mungkin itulah yang membuat Tan Malaka menangis.

Bukan karena Indonesia gagal menjadi negara besar.

Melainkan karena republik yang ia impikan perlahan kehilangan arah, sementara para pewarisnya sibuk berebut panggung dan kekuasaan.

Dan jika tangisan itu benar-benar terdengar hari ini, sesungguhnya yang sedang menangis bukan hanya Tan Malaka.

Melainkan republik itu sendiri.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup