BEM UNISA: Jangan Perbaiki Sistem yang Busuk, Biarkan Runtuh!
KUNINGANSATU.COM,- Dinamika politik Indonesia kembali diguncang oleh suara mahasiswa, kali ini datang dari mahasiswa melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) yang baru saja merilis pernyataan terbuka yang memilih jalan sunyi dari narasi reformasi tradisional. Alih-alih memohon perbaikan, mereka justru melayangkan tuntutan yang provokatif, mendesak pemerintah untuk melipatgandakan praktik korupsi hingga sistem yang ada hancur lebur.
Narasi ekstrem ini bukan sekadar sensasi, melainkan sebuah refleksi atas kekecewaan yang mendalam. BEM UNISA menyatakan bahwa mereka telah sepenuhnya muak dan kehilangan kepercayaan terhadap institusi yang ada. Pandangan mereka sangat jelas, ketika korupsi dan kebijakan yang menindas rakyat bukan lagi dianggap sebagai penyimpangan, melainkan telah menjadi roda penggerak utama negara, maka sistem tersebut sudah busuk hingga ke akarnya.
Kritik yang dibangun BEM UNISA menggunakan pendekatan satir yang tajam. Mereka menolak untuk sekadar meminta reformasi atau keadilan semu, karena menurut mereka, memperbaiki sistem yang sudah “busuk dari fondasi” justru hanya akan memperpanjang krisis yang diderita masyarakat. Ini adalah ajakan untuk berhenti melakukan penambalan pada tatanan yang sudah rusak parah.
Dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan bahwa kehancuran total adalah satu-satunya jalan agar tatanan lama yang usang dan zalim bisa musnah dari muka bumi. Filosofi yang mereka pegang sangat lugas, di atas puing-puing kehancuran tatanan yang lama, barulah fajar baru bisa terbit.
Sikap radikal ini membawa pesan yang sangat krusial bagi generasi muda Indonesia. Mahasiswa hari ini berkomitmen untuk bersiap mengambil alih dan membangun ulang fondasi negara dari nol dengan sistem yang bersih dan adil, setelah sistem yang lama runtuh karena keserakahannya sendiri.
Pernyataan dari BEM UNISA ini adalah alarm keras bagi penguasa. Ini adalah sinyal bahwa di tengah kebusukan birokrasi, masih ada elemen bangsa yang berani memikirkan nasib negara di masa depan, bahkan jika itu berarti harus melewati proses kehancuran tatanan yang ada saat ini.
OLEH : BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM AL-IHYA KUNINGAN

















