Dari Vonis TB ke Limfoma, Curahan Hati Istri usai Suami Meninggal Dunia Viral di Media Sosial

KUNINGANSATU.COM – Curahan hati seorang perempuan melalui akun Instagram pribadinya, @tryulistiani, pada Minggu (26/7/2026) menjadi perbincangan luas di media sosial. Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan perjalanan pengobatan suaminya yang berakhir meninggal dunia setelah sempat didiagnosis menderita tuberkulosis (TB) kelenjar. Belakangan, hasil biopsi menyatakan pasien mengidap limfoma.

Pengalaman itu dibagikan melalui 16 slide unggahan yang, menurut pengunggah, bertujuan agar pengalaman serupa tidak dialami oleh keluarga lain.

Dalam keterangannya, pengunggah mengisahkan bahwa persoalan kesehatan sang suami bermula pada awal Februari saat ditemukan benjolan di ketiak kanan. Setelah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (faskes), pasien kemudian dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam di salah satu rumah sakit.

Pengunggah mengaku selama menjalani pemeriksaan dan kontrol, dokter yang menangani hanya melakukan wawancara terkait keluhan tanpa melakukan pemeriksaan fisik terhadap benjolan tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen, pasien kemudian didiagnosis menderita TB kelenjar dan menjalani terapi obat anti tuberkulosis (OAT).

Namun, menurut pengunggah, kondisi suaminya justru terus mengalami penurunan. Berat badan disebut turun drastis, tubuh semakin lemah, hingga muncul pembengkakan, kebas, dan kesemutan pada tangan.

Dalam unggahan itu, pengunggah juga mengaku pada salah satu jadwal kontrol, suaminya diminta membeli obat OAT di klinik milik dokter yang merawatnya. Menurut penjelasan yang diterimanya, obat OAT yang diperoleh melalui BPJS disebut tidak cocok untuk kondisi pasien.

“Kali ini suamiku disuruh membeli obat OAT di klinik beliau, alasannya katanya suamiku enggak cocok dengan obat OAT BPJS,” tulis pengunggah dalam unggahannya.

Pengunggah juga mengaku ketika keluarganya menyampaikan keinginan untuk melanjutkan pengobatan di Bandung, dokter tersebut mempersilakan pasien berobat di sana, namun obat disebut tetap dapat dikirim dari kliniknya dengan pembayaran melalui transfer.

Pernyataan itu kemudian memunculkan pertanyaan dari pengunggah yang dituangkan dalam unggahannya.

“Sejak kapan dokter jadi sales obat?” tulisnya.

Merasa perkembangan pengobatan tidak menunjukkan hasil yang diharapkan, keluarga kemudian meminta pendapat dokter spesialis penyakit dalam lainnya di sebuah klinik. Berbeda dengan penanganan sebelumnya, dokter tersebut disebut melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan menyarankan agar pasien segera menjalani biopsi karena mencurigai adanya keganasan pada benjolan.

Selanjutnya, keluarga mengurus rujukan ke rumah sakit di Bandung. Setelah melalui proses administrasi, pasien akhirnya menjalani biopsi secara mandiri di RS Borromeus.

Hasil biopsi tersebut, menurut pengunggah, menunjukkan bahwa suaminya menderita limfoma, bukan TB kelenjar sebagaimana diagnosis sebelumnya.

Pengunggah mengaku sangat terpukul karena suaminya telah mengonsumsi obat anti tuberkulosis selama kurang lebih dua bulan berdasarkan diagnosis yang belakangan dinyatakan tidak sesuai.

Tak lama setelah diagnosis limfoma ditegakkan, kondisi pasien disebut terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Unggahan tersebut kini ramai diperbincangkan warganet. Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, banyak pengguna media sosial juga meminta adanya evaluasi terhadap pelayanan kesehatan, termasuk terkait dugaan salah diagnosis, dugaan tidak optimalnya pemeriksaan fisik, serta dugaan pasien diarahkan membeli obat di klinik pribadi dokter.

Hingga berita ini ditayangkan, belum terdapat keterangan atau tanggapan resmi dari dokter yang disebut dalam unggahan maupun dari pihak rumah sakit terkait mengenai isi pengakuan yang viral tersebut.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup