Jangan Sibuk Menghitung Massa, Mari Hitung Dampak Geothermal Ciremai
KUNINGANSATU.COM,- Polemik geothermal Ciremai kembali ramai. Namun sayangnya, beberapa pihak justru lebih sibuk mengomentari aksi demonstrasi daripada membahas substansi penolakan geothermal.
Ada yang menyesalkan aksi, ada pula yang menyebut demonstrasi berpotensi ditunggangi kepentingan politik dan mendorong agar persoalan geothermal dibawa ke kajian ilmiah.
Kami sepakat bahwa kajian ilmiah penting. Tetapi, kajian ilmiah dan demonstrasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kajian diperlukan untuk menguji data dan dampak, sementara demonstrasi merupakan salah satu cara masyarakat menyampaikan sikap dan mendesak pemerintah agar terbuka.
Pertanyaannya sederhana, mengapa masyarakat harus turun ke jalan? Apakah karena mereka tidak memiliki kepentingan, atau justru karena informasi mengenai rencana geothermal belum cukup terbuka?
Jika memang aksi dianggap “ditunggangi”, seharusnya buktikan siapa yang menunggangi dan apa kepentingannya. Jangan sampai istilah tersebut hanya menjadi cara mudah untuk mengalihkan perhatian dari substansi persoalan.
Menariknya, ketika demonstran dicurigai memiliki kepentingan politik, maka publik juga berhak mempertanyakan kepentingan setiap pihak yang memberikan pembelaan atau pandangan terhadap pemerintah. Standar kritis harus berlaku kepada semua pihak, bukan hanya kepada mereka yang turun ke jalan.
Pada akhirnya, yang harus dibahas bukan siapa yang paling gaduh, tetapi apa dampak geothermal terhadap Ciremai dan masyarakat Kuningan.
Jika geothermal memang diyakini membawa manfaat, buka data, buka kajian, buka prosesnya, dan libatkan masyarakat.
Jangan sibuk menghitung massa. Mari mulai menghitung dampaknya.
Oleh: Muhamad Sayffulloh Rohman , Presiden Mahasiswa Universitas Islam Al Ihya Kuningan















