Partai Politik Kehilangan Ideologi? Saat Survei Lebih Penting dari Gagasan

KUNINGANSATU.COM,- Dalam demokrasi modern, partai politik sejatinya merupakan institusi yang menjembatani gagasan dengan kekuasaan. Partai hadir bukan semata-mata untuk memenangkan pemilu, melainkan untuk memperjuangkan seperangkat nilai, cita-cita, dan orientasi kebijakan yang lahir dari suatu landasan ideologis. Melalui ideologi itulah publik dapat memahami arah perjuangan partai sekaligus mengukur konsistensi politiknya.

Namun, realitas politik hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Diskursus mengenai ideologi semakin tenggelam di bawah hiruk-pikuk survei elektabilitas. Ruang-ruang partai yang seharusnya menjadi arena perdebatan gagasan justru lebih sibuk membicarakan figur yang akan diusung dalam kontestasi berikutnya. Pertanyaan yang paling sering muncul bukan lagi “apa yang harus diperjuangkan?”, melainkan “siapa yang berpeluang menang?”.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran mendasar dalam fungsi partai politik. Dari organisasi yang semestinya mengorganisasi ide dan kepentingan rakyat, partai perlahan berubah menjadi institusi yang berfokus pada manajemen kandidasi. Akibatnya, keberadaan ideologi semakin kehilangan makna praktis dalam kehidupan politik sehari-hari.

Padahal, sistem politik yang sehat menuntut adanya hubungan yang jelas antara partai politik dan ideologi yang mereka anut. Ketika sebuah partai memiliki posisi ideologis yang tegas, masyarakat dapat menilai apakah kebijakan yang diambil selaras dengan prinsip-prinsip yang selama ini diklaim. Dengan kata lain, ideologi berfungsi sebagai instrumen akuntabilitas politik.

Sebaliknya, ketika ideologi tidak lagi menjadi fondasi utama, partai dapat bergerak ke mana saja tanpa beban penjelasan kepada publik. Koalisi dapat dibentuk dengan siapa saja, sikap politik dapat berubah sewaktu-waktu, dan kebijakan dapat berganti arah sesuai kebutuhan momentum. Dalam situasi demikian, yang tersisa bukanlah politik gagasan, melainkan politik peluang.

Tidak mengherankan apabila masyarakat semakin sulit membedakan karakter antarpartai. Hampir semua berbicara tentang kesejahteraan, pembangunan, dan kepentingan rakyat. Namun ketika ditanya mengenai model pembangunan seperti apa yang diperjuangkan, bagaimana posisi mereka terhadap ketimpangan ekonomi, atau sejauh mana negara harus hadir dalam kehidupan masyarakat, jawabannya sering kali kabur dan normatif.

Yang lebih ironis, sebagian ketua partai tampak lebih bersemangat membaca hasil survei dibandingkan membaca kembali dokumen ideologi organisasinya sendiri. Elektabilitas menjadi kompas utama, sementara ideologi perlahan berubah menjadi artefak yang hanya dikeluarkan saat perayaan ulang tahun partai atau kebutuhan seremonial lainnya.

Demokrasi tentu membutuhkan kompetisi politik. Namun kompetisi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang, melainkan juga oleh gagasan apa yang dipertarungkan. Ketika partai politik kehilangan keberanian untuk mendefinisikan dirinya melalui ideologi, demokrasi berisiko berubah menjadi sekadar perlombaan popularitas yang berlangsung lima tahunan.

Karena itu, persoalan utama politik Indonesia hari ini mungkin bukan kekurangan tokoh, melainkan kekurangan partai yang berani menjelaskan kepada publik apa yang benar-benar mereka yakini. Sebab pada akhirnya, partai yang hanya hidup dari survei akan selalu sibuk mencari kandidat berikutnya, sementara partai yang hidup dari ideologi akan sibuk memikirkan masa depan bangsanya.

Oleh: Muhamad Sayffulloh Rohman
(Ketua BEM UNISA Kuningan)

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup