Viral! Kiai di Gandasoli Nikahi Santri, Istri Pertama Dampingi hingga di Pelaminan

KUNINGANSATU.COM – Sebuah video pernikahan yang berlangsung di Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bukan tanpa alasan, dalam video yang beredar luas tersebut tampak dua perempuan duduk mendampingi seorang mempelai pria di pelaminan dengan raut wajah bahagia.

Kedua perempuan itu mengenakan busana pengantin berwarna putih lengkap dengan siger Sunda. Kehadiran mereka di sisi mempelai pria menarik perhatian publik karena salah satunya merupakan istri pertama yang secara langsung mendampingi proses pernikahan suaminya dengan seorang perempuan lain yang kemudian menjadi istri kedua.

Diketahui, mempelai pria dalam prosesi tersebut adalah Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid (40), pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Ummah, Desa Gandasoli. Sementara perempuan yang dinikahinya adalah Syifa Sri Wahyuni (20), seorang santri sekaligus alumni pondok pesantren yang dipimpinnya.

Pengurus Pondok Pesantren Roudlotul Ummah, Solehudin, menjelaskan bahwa pernikahan tersebut bukan keputusan yang muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, istri pertama Kiai Dede, Wida (34), justru telah merencanakan untuk mencarikan pendamping baru bagi suaminya sejak tiga tahun lalu.

“Itu rencananya sudah tiga tahun yang lalu. Awalnya ditanggapi dingin oleh suaminya. Nah, kemudian istri yang pertama itu ingin memberikan kejutan gitu dengan mencarikan istri,” ujar Solehudin, seperti dikutip dari matalokal.com, Minggu (7/6/2026).

Selama tiga tahun terakhir, kata Solehudin, Wida berupaya mencari sosok perempuan yang dianggap cocok untuk mendampingi suaminya. Pencarian itu bahkan dilakukan hingga ke sejumlah pesantren di berbagai daerah.

“Istri pertama sudah mencari sampai ke pesantren yang di Tasik, Ciamis sampai ke Cikijing. Kan asli Cikijing istrinya pertamanya tuh. Cuman enggak dapat. Pernah juga hampir mau dipertemukan sama pimpinan pesantren. Tapi kalau nggak salah malah lagi pengabdian di luar kota. Jadi nggak dapat,” tuturnya.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, pilihan akhirnya jatuh kepada Syifa Sri Wahyuni yang merupakan warga Desa Gandasoli sekaligus alumni pondok pesantren tersebut. Kedekatan dengan lingkungan pesantren menjadi salah satu pertimbangan utama keluarga.

“Akhirnya ditemukanlah dengan santri aja yang sudah lulus. Warga Desa Gandasoli. Itu juga salah satu putri ini jemaah pengajian di sini, usianya itu 20 tahun. Namanya Syifa Sri Wahyuni,” kata Solehudin.

Menariknya, pernikahan tersebut semula direncanakan berlangsung pada 1 Juni 2026 agar bertepatan dengan hari ulang tahun Kiai Dede yang ke-40. Namun karena jadwal penyelenggara pernikahan penuh, acara akhirnya digelar pada 6 Juni 2026.

Tanggal tersebut ternyata memiliki makna tersendiri bagi keluarga. Selain menjadi momen pernikahan kedua Kiai Dede, hari itu juga bertepatan dengan peringatan 16 tahun usia pernikahannya bersama sang istri pertama.

“Aslinya mah mau tanggal 1 Juni kan biar bertepatan sama ulang tahun kiainya. Tapi malah WOnya penuh jadi nggak bisa, yang kosong katanya di tanggal 6. Jadi yaudah tanggal 6 bertepatan juga sama hari pernikahan pertama yang ke 16. Kan nikah pertama kalinya tahun 2010,” ujar Solehudin.

Menurutnya, Wida memaknai pernikahan kedua sang suami sebagai hadiah ulang tahun sekaligus kado hari jadi pernikahan mereka. Karena itu, ia hadir secara langsung mendampingi suaminya dan istri kedua di pelaminan.

“Pas di tahun inilah sang suami usianya 40 tahun dipertemukan dengan calon istri kedua. Jadi ini perempuan hadiah untuk suaminya, gitu. Pernikahannya juga tepat di hari jadi pernikahan suaminya dan istri pertama,” tuturnya.

Solehudin menegaskan bahwa pernikahan tersebut berlangsung atas dasar kesepakatan semua pihak tanpa adanya unsur paksaan. Ia menyebut salah satu tujuan dari pernikahan itu adalah untuk memperkuat visi dakwah yang selama ini dijalankan di lingkungan pesantren.

“Memang tujuannya dakwah. Jadi untuk menyamakan persepsi, ya sudah. Daripada sekarang nyari luar belum tentu sama dengan persepsi pesantren, akhirnya ada di alumni. Kan alumni kan berarti kan satu guru, satu visi. Dan memang dari si pertama juga sudah rela banget, sudah 3 tahun mencari kan untuk suaminya,” jelasnya.

Dalam video lain yang turut beredar, tampak Wida dan Syifa duduk berdampingan di pelaminan. Menggunakan bahasa Sunda, Wida menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan izin sepenuhnya kepada sang suami untuk menikah kembali. Ia juga menyebut pernikahan tersebut sebagai hadiah spesial bagi suaminya yang berulang tahun pada bulan Juni serta sebagai penanda 16 tahun perjalanan rumah tangga mereka.

Tak hanya itu, Wida berharap pernikahan kedua suaminya dapat menjadi wasilah bagi dirinya untuk semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta memperoleh rida-Nya dalam menjalani kehidupan berumah tangga.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup