Soal Adaptasi Anak di Sekolah, Mahasiswa PIAUD STAIKU Ingatkan Hal Ini

KUNINGANSATU.COM,- Belakangan ini, masyarakat Kabupaten Kuningan tengah menyoroti dinamika yang terjadi di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) terkait proses adaptasi peserta didik baru pada masa Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA). Peristiwa tersebut memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat, baik yang mendukung pihak sekolah maupun yang menyoroti hak anak dalam memperoleh pendidikan.

Menanggapi hal tersebut, guru Raudhatul Athfal sekaligus mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAI Kuningan, Julyyan, mengajak masyarakat melihat persoalan tersebut dari perspektif pendidikan anak usia dini.

“Dalam masa adaptasi, yang sedang belajar bukan hanya anak. Guru sedang belajar mengenali karakter peserta didiknya, orang tua sedang belajar mempercayakan anaknya kepada sekolah, dan anak sedang belajar merasa aman di lingkungan yang baru. Semua membutuhkan proses,” ujar Julyyan.

Menurutnya, setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda ketika memasuki lingkungan sekolah. Menangis, belum mau berpisah dengan orang tua, atau masih kesulitan mengikuti rutinitas sekolah pada hari-hari pertama merupakan kondisi yang masih dapat menjadi bagian dari proses adaptasi.

Namun, ia menegaskan bahwa apabila suatu perilaku berlangsung terus-menerus, memiliki intensitas tinggi, atau berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain, maka diperlukan asesmen oleh tenaga profesional agar anak mendapatkan pendampingan yang sesuai.

“Tidak semua perilaku anak dapat langsung diberi label sebagai gangguan perkembangan. Penilaian terhadap kondisi anak harus berdasarkan asesmen tenaga profesional, bukan asumsi atau potongan informasi yang beredar di media sosial,” tuturnya.

Julyyan menilai, keberhasilan masa adaptasi tidak hanya bergantung pada anak, tetapi juga pada komunikasi dan kepercayaan yang dibangun antara sekolah dan keluarga.

“Pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada satu pihak. Anak membutuhkan guru yang sabar, guru membutuhkan dukungan orang tua, dan orang tua membutuhkan komunikasi yang terbuka dari sekolah. Kolaborasi menjadi kunci agar proses adaptasi berjalan dengan baik,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru memberikan stigma ataupun menyimpulkan suatu persoalan tanpa mengetahui keseluruhan fakta.

“Pendidikan bukan tentang mencari siapa yang benar atau siapa yang salah. Yang terpenting adalah bagaimana semua pihak bersama-sama menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak,” pungkas Julyyan.

Momentum MATAMUDA , hendaknya menjadi pengingat bahwa proses adaptasi merupakan perjalanan yang membutuhkan kesabaran, empati, komunikasi, dan kolaborasi antara anak, guru, orang tua, serta masyarakat.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup