Refleksi 1 Juni 2026, Alan Suwgiri: Jangan Sampai Pancasila Hanya Jadi Pajangan Dinding!

KUNINGANSATU.COM – Hari ini, 1 Juni 2026, Pancasila kembali diperingati. Bendera berkibar, upacara digelar, pidato-pidato kembali menggaungkan pentingnya ideologi bangsa. Namun di tengah suasana peringatan tersebut, Tokoh Pemuda Inspiratif Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri, memilih menyampaikan refleksi dengan nada yang lebih jujur dan menggelitik.

Menurut Alan, perjalanan Pancasila sejak dilahirkan oleh para pendiri bangsa tidak pernah benar-benar mudah. Ia lahir sebagai titik temu berbagai perbedaan, tumbuh di tengah pergolakan zaman, dan hingga hari ini masih harus menghadapi ujian yang datang dalam bentuk yang terus berubah.

“Kalau Pancasila bisa bercerita, mungkin dia sudah menulis novel tebal tentang perjalanan hidupnya. Sejak lahir sampai sekarang, nasibnya penuh drama. Kadang dipuja, kadang dilupakan. Kadang diagungkan, kadang hanya dijadikan pelengkap pidato,” ujar Alan.

Ia menilai tantangan terbesar Pancasila saat ini bukan lagi ancaman yang datang secara terang-terangan, melainkan fenomena yang ia sebut sebagai era ‘seolah-olah’. Sebuah zaman ketika segala sesuatu terlihat baik di permukaan, tetapi belum tentu demikian dalam kenyataan.

Di era serba digital, serba viral, dan serba pencitraan, kata Alan, Pancasila sering kali hadir sebagai simbol yang begitu mudah ditemukan. Tulisan lima sila terpampang di ruang kelas, kantor pemerintahan, ruang rapat, hingga media sosial. Namanya ramai disebut dalam berbagai forum. Namun pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah nilai-nilainya benar-benar hidup di tengah masyarakat?

“Pancasila ada di mana-mana, tetapi kadang terasa tidak ada di mana-mana. Kita bisa melihat lambangnya setiap hari, tetapi belum tentu melihat praktik keadilannya. Kita sering mendengar tentang persatuan, tetapi masih mudah terpecah oleh perbedaan. Kita berbicara soal kemanusiaan, tetapi masih sering abai terhadap sesama,” katanya.

Alan menilai bangsa ini terkadang terlalu sibuk merayakan simbol hingga lupa merawat substansinya. Yang terdengar keras adalah slogan, sementara yang seharusnya diperkuat justru nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam refleksinya, ia menyinggung fenomena maraknya berbagai program pembangunan dan kebijakan yang terus bermunculan. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan berbagai terobosan tersebut. Bahkan, seluruh program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat patut didukung.

Namun ia mengingatkan agar bangsa ini tidak terjebak pada euforia program semata.

“Setiap zaman punya jargon. Hari ini ada yang berteriak hidup ini, hidup itu. Hidup program A, hidup program B, hidup program C. Semua sah-sah saja. Tetapi yang paling penting adalah memastikan bahwa semangat di balik program-program itu tetap berpijak pada Pancasila,” ujarnya.

Dengan nada santai, Alan bahkan menyelipkan guyonan yang memancing senyum.

“Pokok’e sekarang sih, hidup MBG, hidup KDMP, hidup Sekolah Rakyat. Mantap. Tapi jangan lupa, yang harus paling hidup tetap Pancasila. Kalau Pancasila sampai cuma jadi tulisan yang nempel di dinding, sementara nilainya tidak hadir dalam kehidupan, itu namanya kita sedang merayakan kulitnya sambil melupakan isinya,” katanya.

Bagi Alan, ukuran keberhasilan bangsa bukanlah seberapa banyak slogan yang diteriakkan, melainkan seberapa jauh keadilan dirasakan masyarakat, seberapa kuat persatuan dijaga, dan seberapa besar keberpihakan negara kepada rakyat kecil.

Ia meyakini bahwa Pancasila tidak membutuhkan seremoni yang megah untuk tetap hidup. Yang dibutuhkan adalah keteladanan, kejujuran, keberanian, dan komitmen untuk menjalankan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup refleksinya, Alan mengajak masyarakat menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum bercermin, bukan sekadar perayaan tahunan.

“Selamat Hari Lahir Pancasila. Semoga kita tidak hanya pandai mengucapkannya, tetapi juga berani menjalankannya. Sebab bangsa ini tidak kekurangan hafalan tentang Pancasila. Yang masih perlu diperbanyak adalah praktiknya,” pungkas Alan.

Di tengah hiruk-pikuk slogan, program, dan perdebatan yang silih berganti, pesan itu terasa sederhana namun relevan yakni Pancasila akan tetap hidup bukan karena sering disebut, melainkan karena terus dijalankan.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup