Menjaga Janji Menjalani Dharma, Ini Makna Pramuka di Mata Alan Suwgiri

KUNINGANSATU.COM – Suasana pelantikan Penegak Bantara di SMK Negeri 1 Luragung, Sabtu (18/4/2026), tidak hanya dipenuhi prosesi formal, tetapi juga menghadirkan semangat yang menghidupkan kembali makna sejati kepramukaan. Di tengah barisan peserta Ambalan Rangga Kencana-Kencana Wati, pesan-pesan yang disampaikan tokoh Pemuda Inspiratif Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri, menggugah kesadaran bahwa Pramuka adalah jalan hidup, bukan sekadar kegiatan.

Mengawali materinya, Alan langsung menancapkan perspektif tentang bagaimana seorang pramuka dibentuk melalui proses yang tidak sederhana.

“Seorang Pramuka tidak lahir di perkemahan, tapi ditempa oleh hujan, api unggun, dan janji yang dijaga,” ungkapnya, disambut perhatian para peserta.

Narasi tersebut bukan sekadar kalimat motivasi. Alan mengajak peserta memahami bahwa setiap proses dalam Pramuka, baik saat hujan mengguyur tenda maupun saat duduk mengelilingi api unggun, merupakan bagian dari pendidikan karakter yang nyata.

Ia kemudian menegaskan bahwa nilai kepramukaan bukan hafalan, melainkan komitmen hidup yang harus dijalani secara konsisten.

“Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan. Bukan sekadar dihafal, tapi dijalani sampai napas terakhir,” tegas Alan dengan penuh semangat.

Dalam penyampaian yang lugas, Alan mengajak peserta melihat Pramuka sebagai proses belajar yang berorientasi pada kepedulian sosial. Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari setiap latihan adalah kemampuan memberi manfaat.

“Pramuka itu sederhana, belajar hari ini, supaya bisa menolong orang lain esok hari,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menggambarkan keseimbangan antara ketahanan pribadi dan kebermanfaatan sosial sebagai inti dari Dasa Darma yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Di hutan kita belajar bertahan, di masyarakat kita belajar bermanfaat. Itulah Dasa Darma yang hidup,” katanya.

Dalam suasana yang semakin reflektif, Alan menyampaikan pesan sederhana tentang pentingnya menjaga semangat menolong.

“Tali temali boleh kendor, tapi semangat menolong tidak boleh putus,” ucapnya.

Ia juga mengajak peserta memaknai setiap aktivitas dalam Pramuka sebagai pelajaran kehidupan. Mendiri­kan tenda dan mengikat simpul, menurutnya, mengandung filosofi tentang bagaimana menjalani hidup dengan baik.

“Setiap tenda yang didirikan, setiap simpul yang diikat, mengajarkan kita bahwa hidup harus kokoh, rapi, dan berguna,” jelasnya.

Menutup materinya, Alan menegaskan bahwa kesiapsiagaan adalah identitas utama seorang pramuka, terutama dalam menghadapi berbagai situasi.

“Menjadi Pramuka berarti siap sedia saat senang maupun saat susah. Karena pengabdian tidak mengenal cuaca,” pungkasnya.

Kegiatan pelantikan ini tidak hanya menjadi seremoni kenaikan tingkat, tetapi juga momentum peneguhan nilai bagi generasi muda agar mampu hadir dan bermanfaat di tengah masyarakat.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup