Di Balik Takbir Idul Adha, Ada Ego Manusia yang Harus Dikorbankan

KUNINGANSATU.COM – Di tengah gema takbir Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi, manusia kembali diingatkan pada sebuah kisah agung tentang ketaatan, cinta, dan pengorbanan. Namun bagi pengurus Lembaga Perekonomian NU Jawa Barat, Alan Suwgiri, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tidak cukup dimaknai hanya sebagai peristiwa sejarah spiritual semata.

Menurutnya, kisah itu sesungguhnya terus hidup dan hadir dalam diri manusia hingga hari ini.

“Kalau dahulu Ismail adalah sosok yang hendak dikorbankan oleh Nabi Ibrahim, maka hari ini ‘Ismail’ itu telah menjelma menjadi ego, kesombongan, kerakusan, ambisi, bahkan rasa paling benar yang terus dipelihara manusia,” kata Alan saat menggambarkan makna Kurban dalam pandangannya, Kamis (28/5/2026).

Alan menilai, manusia modern hidup di zaman yang serba cepat, serba terlihat, dan serba ingin diakui. Teknologi membuat manusia semakin mudah menunjukkan siapa dirinya, tetapi pada saat yang sama perlahan menjauh dari keheningan batin dan rasa kemanusiaan.

Media sosial, kata dia, telah menjadi panggung besar tempat manusia berlomba mencari pengakuan. Banyak orang ingin terlihat paling hebat, paling suci, paling benar, hingga lupa bagaimana caranya mendengar dan memahami orang lain.

Di situlah, menurut Alan, Idul Adha menemukan makna terdalamnya.

“Kurban bukan sekadar tentang hewan yang disembelih. Kurban adalah keberanian manusia menyembelih ego dalam dirinya sendiri. Sebab sering kali yang paling sulit dilepaskan bukan harta, melainkan kesombongan dan rasa ingin menang sendiri,” katanya.

Ia menggambarkan, dunia hari ini sedang mengalami krisis yang tidak selalu terlihat oleh mata. Bukan hanya krisis ekonomi atau politik, tetapi krisis ketulusan dan empati.

Manusia semakin mudah marah, mudah membenci, mudah menghakimi. Perbedaan pilihan politik memecah persaudaraan, perbedaan pandangan melahirkan permusuhan, sementara kepentingan pribadi perlahan mengalahkan rasa kemanusiaan.

Padahal, lanjut Alan, Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pengorbanan sejati lahir dari ketulusan melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi nilai yang lebih besar.

“Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan dan kemanusiaan harus lebih besar daripada cinta kepada ego diri sendiri,” ungkapnya.

Menurut Alan, banyak manusia hari ini takut kehilangan jabatan, takut kehilangan citra, takut kehilangan pengaruh, bahkan takut kehilangan pujian. Namun sedikit yang berani kehilangan kesombongannya sendiri.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Idul Adha tahun ini sebagai momentum untuk kembali berdamai dengan diri sendiri dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang merusak kehidupan.

“Mungkin hari ini kita tidak diminta mengorbankan anak seperti Ibrahim. Tetapi kita diminta mengorbankan rasa iri, dengki, kebencian, dan kerakusan yang diam-diam tumbuh dalam diri kita,” tuturnya.

Bagi Alan, hakikat kurban bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki manusia, melainkan seberapa ikhlas manusia mampu melepaskan sesuatu demi kebaikan bersama.

Ia pun mengajak generasi muda agar tidak memaknai Idul Adha sebatas tradisi tahunan atau seremoni keagamaan semata, melainkan sebagai ruang perenungan untuk membangun karakter dan kepedulian sosial.

“Generasi muda hari ini harus berani mengorbankan kemalasan demi masa depan, mengorbankan gengsi demi belajar, dan mengorbankan ego demi persatuan,” katanya.

Di akhir refleksinya, Alan menyebut bahwa dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar. Namun yang mulai langka adalah ketulusan, keikhlasan, dan rasa kemanusiaan.

“Sebab mungkin, yang paling perlu disembelih hari ini bukan hanya hewan kurban, tetapi sifat-sifat buruk dalam diri manusia yang selama ini diam-diam menghancurkan kehidupan,” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup