Kebakaran TPSA Ciniru, BEM UNISA Soroti Pemerintah: Jangan Hadir Saat Api Menyala

KUNINGANSATU.COM,- Kebakaran Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciniru hari ini bukan sekadar persoalan api yang membakar tumpukan sampah. Ia adalah alarm keras tentang bagaimana persoalan lingkungan selama ini ditangani. Ketika api mulai membesar, ketika asap mengepul, ketika warga mulai terancam, tiba-tiba semua mata tertuju ke TPSA Ciniru.

Pertanyaannya sederhana: sebelumnya ke mana?

Kami di BEM UNISA bukan baru hari ini berbicara tentang persoalan TPSA Ciniru. Kami sudah menyampaikan kritik dan kekhawatiran mengenai kondisi TPSA tersebut sebelum persoalan ini menjadi kebakaran. Kami sudah mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang bagaimana membuang sampah, tetapi juga tentang kapasitas, tata kelola, keselamatan lingkungan, dan masa depan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Hari ini, setelah api membesar, pemerintah turun. Tim gabungan, bantuan armada air diminta, dan perhatian publik tertuju kepada TPSA Ciniru. Tentu langkah tersebut patut diapresiasi karena keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Namun, kita juga perlu bertanya, mengapa langkah sebesar ini baru terlihat ketika bencana sudah terjadi?

Kami tidak sedang mempertanyakan mengapa pemerintah turun tangan. Justru kami mempertanyakan mengapa pemerintah tidak hadir dengan kekuatan yang sama sebelum kebakaran terjadi?

Sebab pemerintah seharusnya tidak hanya hadir ketika masalah sudah menjadi berita. Pemerintah tidak boleh menunggu api membesar untuk kemudian bergerak. Pemerintahan yang baik bukan hanya mampu memadamkan kebakaran, tetapi juga mampu mencegah agar kebakaran dan persoalan yang lebih besar tidak terjadi.

Karena itu, kebakaran TPSA Ciniru harus menjadi bahan evaluasi serius. Jangan sampai setelah api padam, perhatian juga ikut padam. Jangan sampai setelah kamera media meninggalkan lokasi, persoalan TPSA kembali dianggap selesai.

Kami ingin melihat langkah yang lebih konkret, bagaimana pemerintah memastikan sistem pengelolaan TPSA berjalan dengan baik, bagaimana mitigasi risiko kebakaran dilakukan, bagaimana kapasitas dan kondisi timbunan sampah dievaluasi, serta bagaimana keselamatan masyarakat sekitar benar-benar dijamin.

Sekarang bukan waktunya pemerintah mencari siapa yang salah. Sekarang waktunya menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih penting. Setelah peringatan itu disampaikan, apa yang sebenarnya sudah dilakukan?

Jangan sampai suara masyarakat dan mahasiswa baru dianggap penting setelah bencana terjadi.

Karena bagi kami, kritik bukanlah bentuk permusuhan terhadap pemerintah. Kritik adalah bentuk kepedulian. Dan ketika kritik sudah disampaikan sebelum persoalan menjadi bencana, maka pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa peringatan tersebut benar-benar didengar dan ditindaklanjuti.

Jangan hanya hadir ketika api menyala. Hadirlah sebelum masyarakat terbakar oleh masalah yang sama.

Oleh : Muhammad Sayffulloh rohman Ketua BEM Universitas Islam Al-Ihya Kuningan

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup