ORADO Kuningan Makin Profesional, 4 Wasit Jalani Tahapan Sertifikasi

KUNINGANSATU.COM,- Dunia olahraga domino di Kabupaten Kuningan mulai berbenah. Bukan hanya soal turnamen dan peserta, keberadaan wasit yang memahami aturan pertandingan juga mulai mendapat perhatian.

Ketua Orado Kuningan, dr. Agah Nugraha, mengungkapkan sebanyak empat orang dari Kuningan telah dikirim ke Bandung untuk mengikuti pelatihan wasit domino. Mereka kemudian mulai diterjunkan dalam pertandingan, salah satunya pada Open Tournament Domino Orado (101) Piala Panglima TNI yang berlangsung di Kuningan, Minggu (27/9/2026).

Namun, Agah menegaskan, keempat wasit tersebut belum mendapatkan sertifikat resmi. Pelatihan yang diikuti di Bandung merupakan salah satu tahapan sebelum mereka memperoleh sertifikasi.

“Sementara sebetulnya belum tersertifikasi, karena kemarin kita baru melaksanakan pelatihan. Kita kirim empat orang ke Bandung melaksanakan pelatihan wasit,” ujar Agah seusai turnamen Piala Panglima TNI di Kajene, Minggu (27/9/2026).

Menurutnya, setelah mengikuti pelatihan, calon wasit masih harus memenuhi sejumlah persyaratan. Mereka diwajibkan memimpin sedikitnya tiga kali kejuaraan sebelum nantinya mendapatkan sertifikat.

“Setelah pelatihan tersebut, mereka harus melaksanakan minimal tiga kali kejuaraan, memimpin tiga kali kejuaraan. Ini sudah salah satunya,” katanya.

Tahapan tersebut membuat turnamen Piala Panglima TNI menjadi pengalaman penting bagi para calon wasit. Mereka tidak hanya mempraktikkan materi yang diperoleh saat pelatihan, tetapi juga berhadapan langsung dengan situasi pertandingan.

Salah seorang wasit, Muhammad Sobar, mengaku baru pertama kali memimpin pertandingan setelah mengikuti pelatihan di Bandung. Ia sebelumnya mendapatkan tawaran untuk mengikuti training dan kemudian ikut serta dalam pelatihan selama dua hari satu malam.

“Alasan saya menjadi wasit domino, awalnya ditawari training ke Bandung sama Pak Thomas. Begitupun saya langsung ikut ke Bandung training selama dua hari satu malam,” ujar Sobar.

Ketertarikannya menjadi wasit juga tidak lepas dari hobinya bermain domino.

“Karena itu gaple hobi juga. Jadi sedikit tertarik,” katanya.

Sobar mengaku sempat kaget ketika langsung dipercaya memimpin pertandingan Piala Panglima TNI. Selain masih minim pengalaman, menurut dia, aturan dalam pertandingan Orado memiliki sejumlah perbedaan dengan permainan gaple yang biasa dimainkan masyarakat.

“Kagetlah, karena ilmunya juga kurang luas. Langsung terjun disuruh ngewasitin event turnamen Panglima TNI. Mau tidak mau harus ikut karena saya sudah ikut training di Bandung,” tuturnya.

Ia menyebut salah satu tantangan yang ditemui adalah perbedaan aturan. Dalam permainan gaple yang biasa dimainkan di masyarakat, pemain terkadang menganggap memiliki kartu kecil sebagai keuntungan. Namun dalam pertandingan Orado, situasinya dapat berbeda dan kesalahan tertentu justru bisa menghasilkan sanksi berupa tambahan poin bagi lawan.

“Karena olahraga baru, peraturan juga tidak sama. Biasanya kita menggaplehkan itu kan kita menang karena punya kartu kecil. Tapi di sini kalau kita ngegaplehkan, kita juga harus lihat. Ketika kita kalah gaple-nya, kita malah kena sanksi, poin itu untuk lawan,” jelasnya.

Selain aturan, teknis permainan juga menjadi hal yang harus dipahami oleh wasit. Mulai dari cara menaruh batu domino hingga mekanisme pengocokan memiliki ketentuan tersendiri.

“Banyak juga dari salah menaruh batunya, karena ini bukan kertas, tapi batu. Terus dari cara pengocokannya kan beda,” ungkap Sobar.

Wasit lainnya, Haidar Agil Riyanda, juga menjadi salah satu peserta pelatihan yang mulai mendapatkan pengalaman memimpin pertandingan. Warga Desa Karangsari, Kecamatan Darma, itu sebelumnya pernah memiliki pengalaman menjadi wasit dalam sebuah kegiatan di acara PPDI .

Ia kemudian mengikuti pelatihan wasit di Bandung yang menjadi bagian dari persiapan untuk memimpin pertandingan Orado.

Menurut Haidar, menjadi wasit domino tidak sekadar memahami jalannya permainan. Konsentrasi dan ketelitian menjadi bagian penting karena setiap gerakan dalam pertandingan dapat memiliki makna tertentu.

Sobar menambahkan, suasana pertandingan Orado juga berbeda dengan permainan gaple yang biasa dilakukan secara santai. Jika bermain di lingkungan masyarakat, peserta dapat merokok atau berbincang sambil bermain. Sementara dalam pertandingan resmi, konsentrasi harus dijaga.

“Kalau kita sambil merokok itu mengganggu konsentrasi saat melakukan di lapangan. Karena kalau kita gerakan tangan, dari tangan sampai ke badan itu ada kodenya. Jadi itu tidak boleh dilakukan,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal domino sebagai olahraga dan tidak hanya melihatnya sebagai permainan untuk mengisi waktu luang.

“Yuk ikutlah gabung, domino itu enak dimainkan sehobi. Apalagi seru untuk pertandingannya, banyak event-nya. Sebagai olahraga baru, pasti berjenjang ke depannya lebih panjang,” kata Sobar.

Sementara itu, Agah mengatakan Orado Kuningan berencana menghadirkan pelatihan wasit dari tingkat pusat di Kabupaten Kuningan. Langkah tersebut diharapkan dapat memudahkan calon wasit lokal mengikuti pelatihan tanpa harus pergi ke luar daerah.

“Mudah-mudahan ada rezekinya nanti kita hadirkan pelatihan wasit dari pusat ke Kuningan. Supaya teman-teman tidak perlu pelatihan ke pusat,” kata Agah.

Dengan adanya proses pelatihan dan pemenuhan tahapan sertifikasi tersebut, Orado Kuningan menargetkan pertandingan-pertandingan berikutnya dapat dipimpin oleh wasit yang memiliki kompetensi dan lisensi resmi.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup