AI dan Masa Depan Jurnalistik Kuningan, Iyan Irwandi: Teknologi Canggih, Etika Tetap Utama!

KUNINGANSATU.COM – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini benar-benar mengubah wajah dunia jurnalistik. Di tengah maraknya berita yang bisa dibuat hanya dalam hitungan menit menggunakan AI, muncul kekhawatiran soal kualitas, independensi, hingga etika pemberitaan, termasuk di daerah seperti Kabupaten Kuningan.

Kekhawatiran tersebut salah satunya datang dari salah satu tokoh Wartawan Kabupaten Kuningan, Iyan Irwandi. Menurutnya kemajuan teknologi sejatinya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia justru menilai teknologi khususnya AI bisa menjadi alat bantu penting bagi wartawan, selama tidak menghilangkan prinsip dasar jurnalistik.

“AI bukan ancaman, tapi alat bantu. Wartawan yang hebat itu wartawan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan zaman. Harus terus belajar,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (20/5/2026).

Meski demikian, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kuningan itu mengingatkan agar kemudahan teknologi tidak membuat wartawan melupakan fungsi utama jurnalistik.

“Jangan sampai karena semuanya serba cepat, wartawan malah kehilangan prinsip-prinsip jurnalistik. Ingat, jurnalistik itu pencari kebenaran,” tegasnya.

Menurutnya, masa depan wartawan lokal di Kabupaten Kuningan akan sangat ditentukan oleh kualitas pribadi masing-masing insan pers, termasuk bagaimana organisasi dan perusahaan media membina para jurnalisnya.

“Ke depan wartawan Kuningan mau dibawa ke arah mana, itu tergantung individunya dan media tempat dia bekerja. Mau tetap berpegang pada prinsip jurnalistik atau justru sebaliknya,” katanya.

Fenomena penggunaan AI dalam penulisan berita, lanjut pria yang saat ini menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Media Kabar Kuningan tersebut, memang tidak bisa dihindari. Bahkan saat ini banyak wartawan yang sudah mulai memanfaatkannya dalam proses kerja sehari-hari. Namun ia mengingatkan, kecepatan membuat berita bukan berarti semua informasi otomatis benar.

“AI bisa menyusun berita dalam hitungan menit, tapi belum tentu semua informasinya benar. Makanya tetap harus cek and ricek, konfirmasi ke narasumber dan memahami konteks persoalan,” ucapnya.

Ia juga menyoroti masih lemahnya pemahaman sebagian wartawan terhadap isi berita yang mereka tayangkan sendiri setelah menggunakan AI.

“Saya melihat banyak wartawan sudah memakai AI. Tapi setelah materinya jadi berita, belum tentu wartawannya memahami isi dan istilah yang ada di dalamnya. Ini yang berbahaya,” katanya.

Iyan yang juga aktif dalam pembinaan generasi muda di dunia seni bela diri pencak silat Kabupaten Kuningan tersebut mengungkapkan bahwa kemampuan dasar jurnalistik tetap menjadi hal utama yang tidak bisa digantikan teknologi secanggih apa pun.

“Kalau seseorang tidak memahami cara menulis berita sesuai kaidah jurnalistik, hasilnya pasti diragukan. Itu karya sendiri atau plagiat? Karena AI juga mengambil referensi dari berbagai tulisan orang lain,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar wartawan tidak asal menerbitkan hasil tulisan AI tanpa proses editing dan verifikasi terlebih dahulu.

“Berita yang dihasilkan AI jangan langsung diterbitkan. Harus diedit, dikaji lagi, dicek lagi kebenarannya,” katanya.

Di tengah maraknya konten berbasis AI di media sosial, Iyan juga mengaku prihatin dengan munculnya banyak narasi yang cenderung sepihak, menghakimi, hingga dibuat hanya demi mengejar sensasi.

“Sekarang banyak berita yang penting ramai. Kadang isinya sepihak, menghakimi dan bertentangan dengan Kode Etik Jurnalistik. Padahal wartawan itu tidak kebal hukum,” tegasnya.

Karena itu, ia menilai perlu ada kolaborasi antara wartawan, pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi era digital dan AI agar tidak semakin liar.

“Pemerintah juga harus ikut membantu mencerdaskan wartawan lewat pelatihan, uji kompetensi dan menghadirkan narasumber yang benar-benar kompeten. Kalau kualitas wartawannya bagus, potensi hoaks juga bisa ditekan,” ujarnya.

Tak hanya wartawan, masyarakat pun dinilai perlu diedukasi agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah memanipulasi informasi.

“Minimal masyarakat bisa meniru prinsip jurnalistik ketika bermedsos. Jangan asal membuat narasi atau menyebarkan informasi tanpa dasar. Ingat, ada UU ITE,” katanya.

Di akhir pernyataannya, pria yang saat ini telah menyelesaikan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan menyandang predikat sebagai Wartawan Utama tersebut kembali menegaskan bahwa AI mungkin bisa membantu cara kerja wartawan, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan roh jurnalistik itu sendiri.

“Cara kerja mungkin bisa dibantu AI, tapi prinsip jurnalistik tidak bisa digantikan. Ada keberimbangan, verifikasi, tidak menghakimi, tidak boleh plagiat dan tidak boleh menjadikan berita sebagai alat memeras. Ingat! AI itu penting sebagai alat bantu, tapi prinsip jurnalistik harus tetap menjadi roh bagi setiap wartawan,” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup