Indah di Luar, Berbahaya di Dalam! Wisata Air Waduk Darma Picu Ancaman Ekologi & Ekonomi Warga
KUNINGANSATU.COM,- Waduk Darma yang tampak tenang dan mempesona.Tersembunyi ancaman besar yang mengintai keseimbangan alam dan kelangsungan hidup ribuan warga sekitar. Ambisi pemerintah menjadikan waduk ini destinasi wisata bertaraf internasional kini berhadapan langsung dengan realitas ekologis dan sosial yang pelik, seiring meningkatnya aktivitas wahana air seperti jetski, banana boat, serta bertambahnya jumlah perahu bermesin.
Waduk Darma bukanlah ruang kosong, melainkan ekosistem hidup yang dipadati oleh ribuan petak Keramba Jaring Apung (KJA) yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat lokal. Data menunjukkan daya dukung waduk ini hanya mampu menampung 1.500–2.000 petak keramba secara ideal, namun jumlahnya pernah melonjak hingga 4.900 petak. Kondisi yang sudah jenuh beban limbah organik ini kini terancam makin parah dengan rencana dan penerapan aktivitas wisata air berkecepatan tinggi dan lalu lintas kapal yang makin padat.
Secara alami, Waduk Darma rawan mengalami fenomena umbalan atau naiknya massa air dasar ke permukaan akibat perbedaan suhu lapisan air. Peristiwa ini pada tahun 2021 dan Juni 2023 telah membuktikan dampak mengerikannya: puluhan hingga ratusan ton ikan mati mendadak, menyisakan kerugian miliaran rupiah bagi pembudidaya.
Memantau kondisi waduk ini, risiko bencana ekologis kini semakin nyata akibat aktivitas manusia. Bukan hanya jetski, melainkan banana boat dan perahu bermesin. Beberapa hal ini juga yang memicu dan mempercepat terjadinya umbalan atau naiknya massa air dasar ke permukaan air yang harus diperhatikan.
Dampak dari setiap jenis wahana yang beroperasi seperti:
• Jetski: Semprotan dorongan air bertekanan tinggi dan manuver tajamnya mengaduk massa air secara mendadak dan kacau hingga ke lapisan terdalam. Di dasar waduk, berton-ton sisa pakan dan kotoran ikan telah mengendap bertahun-tahun membentuk endapan kaya amonia dan zat beracun. Gerakan jetski berfungsi mengangkat racun ini paksa ke permukaan dan menyebarkannya luas dalam waktu singkat. Akibatnya, kadar oksigen anjlok drastis, ikan di keramba yang tak bisa berpindah tempat mati keracunan dan lemas secara massal, sementara polusi suara dari mesinnya membuat ikan stres, nafsu makan menurun, pertumbuhan terhambat, dan hasil panen merosot tajam.
• Banana Boat: Meski tidak bermesin sendiri, wahana ini ditarik perahu dengan kecepatan tinggi sehingga menciptakan gelombang besar dan arus permukaan yang kuat. Energi gelombang ini memecah lapisan air permukaan yang seharusnya stabil, memicu percampuran massa air lebih cepat, serta memperluas jangkauan air beracun ke wilayah keramba yang jauh dari titik gangguan. Dampak umbalan tak lagi hanya terjadi di titik tertentu, tapi meluas ke seluruh area lintasan. Selain itu, riak air yang terus-menerus menghantam keramba membuat ikan gelisah dan stres berkelanjutan, yang berujung pada penurunan kualitas dan kuantitas hasil budidaya.
• Perahu Bermesin: Masalah yang sering luput dari perhatian namun dampaknya nyata adalah bertambahnya jumlah perahu bermesin yang beroperasi setiap hari. Meski jumlahnya tidak mencapai ratusan unit, keberadaan perahu-perahu ini yang bergerak berulang-ulang dan melintasi area yang sama memberikan efek kumulatif. Baling-balingnya berputar terus-menerus, menciptakan arus yang menggerus lapisan batas suhu air secara perlahan namun pasti, sehingga kestabilan ekosistem rusak secara bertahap. Ditambah risiko ceceran bahan bakar atau oli yang mencemari air, serta deru mesin yang bising, peningkatan jumlah perahu ini menjadi ancaman jangka panjang yang nyata bagi kualitas air dan kesehatan ikan budidaya.
Persoalan ini bukan sekadar soal lingkungan, melainkan perebutan ruang hidup. Pengembangan wisata air berbiaya tinggi berpotensi memicu gentrifikasi ruang publik, di mana hak hidup masyarakat kecil tersingkir demi kepentingan rekreasi kalangan tertentu.
Dampak ekonominya sangat krusial. Waduk Darma menyumbang sekitar 3.500 ton ikan per tahun, atau memenuhi 25% kebutuhan ikan se-Kabupaten Kuningan. Di dalamnya terjalin rantai ekonomi panjang: dari penjual bibit, tenaga angkut, peternak, hingga pedagang pasar. Jika ekosistem rusak, efek domino berupa pengangguran dan kenaikan harga pangan tak terelakkan.
Belum lagi risiko keselamatan. Memaksa perahu ketinting warga yang pelan berbagi jalur dengan jetski ngebut dan lalu lintas perahu yang makin padat adalah resep bencana kecelakaan dan konflik sosial.
Tata Kelola Adil dan Berkelanjutan yang hari ini di pertanyakan, yang dimana seharusnya Pariwisata unggulan tidak boleh dibayar dengan air mata kemiskinan dan rusaknya sumber daya alam. Keindahan Waduk Darma harus tetap lestari, namun tidak boleh mengorbankan masa depan ribuan keluarga yang menggantungkan hidupnya di sana. Kita berharap kebijakan yang diambil ke depannya berpihak pada keseimbangan, keadilan, dan kelestarian jangka panjang.
Oleh: Bisyar Abdul Aziz Kabid HPKP PC IMM Kabupaten Kuningan
















