AI Datang, Badai PHK Menerjang! Alan Suwgiri Sebut Banyak Orang Belum Sadar Bahayanya
KUNINGANSATU.COM – Bayang-bayang badai ekonomi mulai terasa. Rupiah melemah, gelombang PHK meluas, sementara kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bergerak cepat menggantikan banyak pekerjaan manusia. Di tengah situasi itu, kelompok kelas menengah disebut menjadi lapisan masyarakat yang paling rentan terguncang.
Tokoh Pemuda Inspiratif Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri, menilai dunia saat ini sedang memasuki fase revolusi industri baru yang dampaknya jauh lebih mengkhawatirkan dibanding sebelumnya.
Dengan nada serius, Alan menyoroti pelemahan rupiah yang kini menyentuh angka Rp17.518 per dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut membuat tekanan terhadap dunia usaha semakin berat karena margin keuntungan perusahaan terus tergerus.
“Ketika profit perusahaan semakin menipis, mau tidak mau mereka melakukan efisiensi. Dan efisiensi itu sering kali berarti PHK,” ujarnya prihatin, Sabtu (16/5/2026).
Namun, menurut Alan, fenomena PHK yang kini terjadi di berbagai perusahaan besar bukan semata-mata karena perusahaan merugi. Dengan ekspresi tajam, ia menyebut banyak korporasi global justru masih mencetak keuntungan besar, tetapi mulai mengalihkan fokus investasi mereka ke pengembangan AI.
Ia mencontohkan Oracle yang melakukan PHK puluhan ribu pegawai demi pembangunan infrastruktur AI, serta Amazon yang memangkas ribuan pekerja sambil memperbesar investasi teknologi kecerdasan buatan.
“Ini revolusi industri yang sedang terjadi di depan mata. Bedanya sekarang, mesin bukan cuma menggantikan tenaga fisik, tapi juga pekerjaan otak,” katanya tegas.
Alan menilai perubahan itu berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pendidikan di Indonesia. Dengan nada kritis, ia menyebut dunia pendidikan masih sibuk mencetak lulusan untuk jenis pekerjaan yang perlahan mulai hilang.
“Sekolah masih menyiapkan orang untuk pekerjaan yang sebenarnya sudah mulai digantikan teknologi,” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Menurut Alan, kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah kelas menengah ke bawah. Dari luar terlihat aman karena memiliki rumah, kendaraan, bahkan pekerjaan tetap. Namun sesungguhnya, sebagian besar hidup dalam tekanan cicilan yang panjang.
“Mereka harus bayar KPR rumah, cicilan mobil, sekolah anak, kartu kredit, sampai gaya hidup yang telanjur naik. Begitu kena PHK atau usaha sepi, kondisi keuangan langsung goyah,” tuturnya dengan nada khawatir.
Ia menggambarkan kelas menengah sebagai kelompok yang hidup di antara dua himpitan. Tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi juga belum cukup kuat secara aset untuk bertahan saat krisis datang.
“Kelas menengah itu paling rawan. Terlalu kaya untuk dibantu, tapi terlalu miskin untuk aman. Ketika badai ekonomi datang, mereka yang paling cepat turun kelas,” ungkap Alan lirih.
Meski begitu, Alan menilai masyarakat masih memiliki peluang untuk bertahan jika mampu beradaptasi sejak sekarang. Dengan nada penuh penekanan, ia menyebut ada tiga langkah penting yang harus segera dilakukan.
Pertama, membangun dana darurat minimal untuk kebutuhan 12 bulan. Kedua, melunasi utang konsumtif sebelum bunga semakin tinggi. Ketiga, mempelajari keterampilan berpenghasilan tinggi atau high-income skill yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
“Skill bisa kedaluwarsa, profesi bisa hilang, industri bisa runtuh. Tapi yang tidak boleh hilang adalah kemampuan untuk terus belajar,” tegasnya penuh keyakinan.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, Alan juga menilai masih ada beberapa bidang yang sulit sepenuhnya digantikan mesin. Salah satunya adalah pekerjaan yang membutuhkan pengambilan keputusan dengan risiko besar.
“AI bisa kasih rekomendasi, tapi kalau salah tetap manusia yang tanggung jawab. Di ruang operasi, lapangan, atau kondisi darurat, tetap dibutuhkan orang yang berani mengambil keputusan,” katanya serius.
Selain itu, ia menekankan bahwa relasi sosial dan kepercayaan manusia masih menjadi kekuatan utama yang belum bisa digantikan teknologi.
“Klien, pasien, dan tim percaya kepada manusia, bukan chatbot. Kalau pekerjaanmu berkaitan dengan negosiasi, konflik, atau menghadapi orang panik, itu masih sangat bernilai,” ujarnya meyakinkan.
Tak hanya itu, Alan juga menyoroti pentingnya pemahaman konteks lokal yang menurutnya masih menjadi kelemahan AI hingga saat ini.
“AI dilatih dengan data global. Tapi dia tidak tahu kondisi desa tertentu, karakter masyarakat, atau kebiasaan lokal. Orang yang paham lapangan sekaligus bisa memakai AI, itu justru akan jadi orang yang paling dicari,” pungkasnya optimistis.***
















