Kalau Ingin Dekat dengan Tuhan, Mulailah Memanusiakan Manusia

KUNINGANSATU.COM – Di tengah kehidupan sosial yang semakin keras dan dipenuhi perdebatan, rasa kemanusiaan dinilai mulai perlahan memudar. Fenomena saling menghujat di media sosial, mudah menghakimi orang lain, hingga rendahnya kepedulian terhadap sesama menjadi gambaran nyata yang kini banyak terjadi di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari tokoh pemuda inspiratif Kabupaten Kuningan, Alan Suwgiri. Menurutnya, manusia saat ini terlalu sibuk mempertahankan ego dan merasa paling benar, hingga lupa pada esensi utama kehidupan, yakni memanusiakan manusia.

“Memanusiakan manusia bukan hanya soal nilai sosial, tetapi juga bentuk nyata dari iman kepada Allah SWT. Karena agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan sesamanya,” ujar Alan, Jumat (8/5/2026).

Ia menilai, iman sejati tidak cukup hanya diukur dari rajinnya seseorang menjalankan ibadah ritual, melainkan juga dari sikap dan perilaku terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

“Hari ini banyak orang mudah menghakimi, tetapi sulit memahami. Mudah mencaci, tetapi enggan mendengarkan. Padahal terkadang seseorang hanya ingin dihargai sebagai manusia,” katanya.

Alan mengatakan, perkembangan teknologi dan media sosial seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat nilai kemanusiaan, bukan justru menjadi ruang untuk menyebarkan kebencian dan permusuhan. Ia menyebut, perbedaan pandangan maupun pilihan semestinya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan.

“Kebenaran tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan kesombongan. Tidak ada gunanya merasa paling dekat dengan Tuhan jika masih gemar menyakiti manusia lainnya,” ucapnya.

Menurut Alan, generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Ia mengajak anak muda untuk menjadi pelopor dalam membangun budaya saling menghormati dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Anak muda harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi bagian dari kerusakan moral. Mulai dari hal sederhana seperti menghormati orang tua, membantu sesama tanpa melihat status sosial, hingga menjaga ucapan agar tidak melukai orang lain,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat Kuningan sejak dahulu dikenal memiliki budaya religius dan semangat gotong royong yang kuat. Karena itu, ia berharap nilai tersebut tetap terjaga dan tidak hilang akibat perkembangan zaman.

“Modernitas jangan sampai membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan. Karena sejatinya, memanusiakan manusia adalah bentuk iman kepada Allah,” pungkasnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup