Beyond The Surface: Maskulinitas dan Ruang Perlawanan Perempuan

KUNINGANSATU.COM,- Maskulinitas selama ini sering dipahami sebagai identitas yang melekat pada laki-laki: kuat, berani, tegas, dan menjadi pelindung. Dalam konstruksi sosial, laki-laki kerap ditempatkan sebagai pihak yang dominan, pengambil keputusan, sekaligus “tameng” bagi perempuan. Sekilas, hal ini tampak sebagai bentuk tanggung jawab. Namun di baliknya, ada dampak yang jarang dibicarakan: maskulinitas yang dominan sering kali membentuk batas-batas bagi kebebasan perempuan.

Tema Beyond The Surface: Mengupas Apa yang Sering Tak Terucap mengajak kita melihat bahwa maskulinitas tidak hanya membentuk cara laki-laki hidup, tetapi juga menentukan bagaimana perempuan diposisikan dalam masyarakat. Ketika laki-laki selalu dianggap lebih kuat dan lebih layak memimpin, perempuan sering dipandang sebagai pihak yang lebih lemah, lebih pasif, dan membutuhkan perlindungan. Dari titik inilah ketimpangan perlahan tumbuh dan menjadi pola yang dianggap wajar.

Atas nama perlindungan, maskulinitas yang berlebihan kadang berubah menjadi kontrol. Perempuan dibatasi dalam mengambil keputusan, pendapatnya dipandang kurang kuat, dan ruang geraknya diawasi dengan dalih menjaga. Padahal perlindungan yang sehat lahir dari penghormatan, bukan dominasi. Ketika perlindungan berubah menjadi kuasa, perempuan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Di tengah realitas itu, muncul kesadaran bahwa perempuan bukan pihak yang harus selalu berada di belakang perlindungan laki-laki. Perempuan memiliki kapasitas untuk berpikir, menentukan pilihan, menghadapi tantangan, dan memperjuangkan hak-haknya sendiri. Kesadaran ini menjadi bentuk perlawanan terhadap konstruksi yang selama ini menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rendah.

Perlawanan itu bukan untuk menciptakan pertentangan antara perempuan dan laki-laki, melainkan untuk membangun relasi yang lebih setara. Sebab hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang lebih kuat atau siapa yang harus selalu melindungi, tetapi tentang bagaimana dua manusia dapat saling menjaga, saling menghormati, dan saling menguatkan tanpa ada yang merasa lebih berhak menguasai.

Maskulinitas pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Ia dapat melahirkan tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian. Namun ketika maskulinitas dibangun di atas dominasi dan superioritas, dampaknya dapat membatasi ruang hidup perempuan. Karena itu, maskulinitas perlu dipahami ulang, bukan sebagai simbol kekuasaan, tetapi sebagai nilai tanggung jawab yang berjalan berdampingan dengan kesetaraan.

Sebab pada akhirnya, yang sering tidak terucap dari maskulinitas bukan hanya beban yang dipikul laki-laki, tetapi juga batas-batas yang tercipta bagi perempuan. Dan dari batas-batas itulah lahir keberanian untuk menolak, mempertanyakan, dan memperjuangkan ruang yang lebih adil.

Oleh : KOPRI STAIKU

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup