Editorial: Menjaga Nalar Kritis Bersama Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka

Warisan yang Belum Tuntas

Editorial ini mengambil posisi tegas bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis nalar. Dari politik hingga pendidikan, dari birokrasi hingga ruang publik digital, logika sering ditinggalkan. Kerusuhan yang meletus belakangan ini menunjukkan betapa mudahnya emosi massa dipicu tanpa dasar rasional. Padahal, Tan Malaka sudah mengingatkan delapan dekade lalu bahwa bangsa yang tidak sanggup berpikir akan selamanya jadi pengikut.

Menjaga nalar kritis berarti melanjutkan perjuangan Tan Malaka. Madilog bukan kitab suci, tetapi peta jalan agar bangsa berani berpikir lurus, ilmiah, dan bebas dari dogma. Pertanyaannya kini, apakah kita akan terus membiarkan nalar bangsa terpenjara, atau berani merdeka dengan logika?

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup