Editorial: Menjaga Nalar Kritis Bersama Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka

KUNINGANSATU.COM,- Bayangkan suasana tahun 1943, ketika Indonesia belum merdeka dan rakyat hidup di bawah pendudukan Jepang. Di tengah keterbatasan, pengawasan militer, dan bahaya yang mengintai, seorang tokoh pergerakan bernama Tan Malaka menulis sebuah karya besar yang diberi judul Madilog. Ia menulis bukan di ruang kuliah yang nyaman, melainkan dalam situasi pengasingan, dengan ancaman kematian selalu membayang. Namun justru dalam kondisi paling terjepit itu, Tan Malaka menyalakan api intelektual untuk bangsanya.

Bangsa ini, katanya, tidak cukup hanya berjuang dengan bambu runcing atau seruan nasionalisme. Senjata paling penting justru ada di dalam kepala yaitu akal sehat, logika, dan keberanian berpikir kritis. Karena tanpa itu, rakyat akan mudah diperbudak kembali, entah oleh penjajah asing, elit feodal, atau bahkan oleh tahayul dan dogma yang menyesatkan.

Kini, delapan dekade berlalu, pesan Tan Malaka tetap relevan. Di ruang publik kita, suara logis masih sering kalah oleh propaganda. Di media sosial, kabar bohong lebih cepat dipercaya ketimbang data. Di sekolah, hafalan lebih diagungkan daripada pertanyaan kritis. Kita seolah berjalan di jalan kemerdekaan, tetapi pikiran masih terikat rantai. Madilog hadir sebagai peringatan keras bahwa tanpa logika, kemerdekaan hanyalah bayangan semu.

Membongkar Belenggu Pikiran

Delapan dekade lalu, Tan Malaka menulis Madilog di tengah penjajahan Jepang. Buku setebal lebih dari 500 halaman itu lahir bukan sebagai karya akademik semata, melainkan sebagai senjata untuk membebaskan cara berpikir bangsa. Dalam pendahuluan, Tan Malaka menegaskan:

“Madilog ialah senjata buat merombak cara berfikir mistika dan menggantinya dengan cara berfikir jang lebih sesuai dengan ilmu pengetahuan.” (Madilog, 1943: 5)

Ia sadar, tubuh bangsa bisa dipenjara, tetapi pikiran tidak boleh. Menurutnya, bangsa yang berpikir mistik, penuh tahayul, dan menelan dogma tanpa kritik akan mudah diperalat. Madilog adalah seruan agar rakyat berani berpikir logis, kritis, dan ilmiah.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup