Kenaikan Harga Pertamax Tuai Sorotan, Minim Sosialisasi Dinilai Perparah Kekecewaan Publik

KUNINGANSATU.COM,- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang disebut berlaku secara mendadak pada tengah malam memicu reaksi dari berbagai kalangan masyarakat. Banyak warga mengaku baru mengetahui adanya perubahan harga saat hendak mengisi BBM pada pagi hari, sehingga memunculkan kekecewaan terhadap pola komunikasi pemerintah yang dinilai kurang terbuka.

Harga Pertamax yang sebelumnya disebut berada di kisaran Rp12.300 per liter berubah menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap pengeluaran masyarakat, terutama pengguna kendaraan pribadi dari kalangan kelas menengah yang selama ini mengandalkan BBM non-subsidi.

Dalam simulasi sederhana, pengisian 20 liter Pertamax yang sebelumnya membutuhkan biaya sekitar Rp246 ribu kini mencapai Rp325 ribu. Artinya, terdapat tambahan pengeluaran hampir Rp80 ribu dalam sekali pengisian.

Bagi masyarakat, persoalan yang paling disorot bukan hanya besarnya kenaikan harga, tetapi juga minimnya sosialisasi sebelum kebijakan diberlakukan. Sebab, BBM merupakan kebutuhan strategis yang berpengaruh terhadap biaya transportasi, ongkos kerja, biaya pendidikan, distribusi barang, hingga modal usaha pelaku UMKM.

Pengamat sosial Yoga Sunandar menilai setiap kebijakan yang berdampak luas terhadap masyarakat seharusnya disampaikan secara transparan agar publik memiliki waktu untuk memahami sekaligus menyesuaikan kondisi ekonomi mereka.

“Kalau benar kenaikan Pertamax dilakukan secara mendadak tanpa sosialisasi yang jelas kepada masyarakat, tentu yang paling dirasakan bukan hanya soal angka kenaikannya, tetapi rasa kecewa karena rakyat seperti tidak diajak bicara. BBM itu bukan kebutuhan kecil, dampaknya langsung ke ongkos kerja, biaya sekolah anak, harga barang dagangan, sampai daya beli masyarakat,” ujar Yoga.

Ia menambahkan, mayoritas pengguna Pertamax berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah yang tidak menerima subsidi pemerintah. Karena itu, menurutnya, lonjakan harga tetap menjadi beban yang cukup berat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Yoga juga menyinggung ramainya slogan “Mas Bahlil Ganteng” (MBG) yang belakangan viral di media sosial, khususnya TikTok. Menurutnya, muncul berbagai sindiran dari warganet yang mengaitkan tren tersebut dengan kenaikan harga Pertamax. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mencampuradukkan kritik terhadap kebijakan dengan serangan personal kepada pejabat.

“Masyarakat perlu memisahkan antara kritik terhadap kebijakan dengan serangan personal kepada pejabat tertentu. Mengaitkan kenaikan harga BBM dengan tren viral atau candaan di media sosial belum tentu benar dan tidak bisa dijadikan dasar kesimpulan. Kritik tetap harus disampaikan secara tajam, tetapi berbasis data, logika, dan kepentingan rakyat,” katanya.

Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat saat ini sedang menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya hidup dan melemahnya daya beli. Sejumlah pedagang, lanjutnya, mulai mengeluhkan menurunnya aktivitas pembelian karena pengeluaran rumah tangga terus bertambah.

Di akhir pernyataannya, Yoga berharap pemerintah dapat memperbaiki pola komunikasi publik dalam setiap pengambilan kebijakan strategis, terutama yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

“Yang dibutuhkan masyarakat hari ini sebenarnya sederhana, yaitu keterbukaan, penjelasan yang jujur, dan keberanian pemerintah untuk berdialog langsung dengan rakyat sebelum mengambil keputusan besar yang menyentuh kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup