Jalur Lebar ‘Sirkuit’ Arunika Bikin Publik Curiga, Dadan: Yakin Cuma Ganti Pohon?

KUNINGANSATU.COM,- Pemerhati Kebijakan Publik, Dadan Satyavadin, kembali angkat bicara terkait polemik munculnya jalur tanah lebar yang disebut-sebut mirip “sirkuit” di kawasan Arunika. Dalam pernyataannya, Rabu (3/12/2025), ia menilai dalih pengembang bahwa aktivitas tersebut hanya untuk “penggantian pohon” tidak sesuai dengan temuan lapangan.

Dadan menegaskan bahwa perhatian publik muncul bukan tanpa alasan. Setelah video dan foto beredar, sejumlah warga serta media yang meninjau lokasi menemukan jalur selebar sekitar lima meter dengan jejak pengerjaan alat berat.

“Kalau benar hanya penggantian pohon, mengapa jalurnya selebar itu? Mengapa bentuknya memanjang dan rapi seperti lintasan? Ini tidak masuk akal,” ujarnya.

Menurutnya, metode penggantian vegetasi semestinya dilakukan titik per titik, bukan dengan membuka akses yang membelah lanskap dan mengubah kontur tanah. “Ini bukan pola konservasi. Ini ciri pembukaan lahan. Meski nanti ditanam bibit baru, tidak menghapus fakta bahwa vegetasi asli telah hilang dan fungsi lindungnya terganggu,” kata Dadan.

Ia juga menilai alasan bahwa jalur tersebut dibuat sebagai “akses pesantren pewakaf” masih menyisakan pertanyaan besar di benak publik. “Publik berhak bertanya apa urgensinya membuka jalur selebar itu di kawasan sensitif? Di kaki Ciremai yang merupakan daerah tangkapan air, kehati-hatian bukan pilihan. Itu kewajiban moral dan hukum,” tegasnya.

Dadan menyoroti minimnya transparansi pengembang dan pemerintah daerah. Hingga kini, ia menyebut publik belum melihat adanya kajian lingkungan yang memadai, perizinan pemanfaatan ruang, maupun rencana pemanfaatan lahan jangka panjang. Menurutnya, tanpa tiga hal tersebut, klaim “penggantian pohon” justru semakin tampak seperti strategi meredam kritik ketimbang penjelasan yang jujur.

“Warga sekitar Arunika sudah punya pengalaman empiris soal longsor, banjir bandang, hingga penyempitan ruang resapan. Kekhawatiran mereka bukan isapan jempol,” ungkap Dadan.

Ia mendorong pengembang dan pemerintah daerah untuk melihat kritik publik sebagai momentum memperbaiki komunikasi, bukan bersikap defensif.

“Kawasan Arunika bukan hanya milik pengembang. Ia bagian dari ekosistem Ciremai yang mempengaruhi kehidupan banyak desa. Setiap perubahan harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan transparan,” katanya.

Dadan menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa publik tidak menolak pembangunan, tetapi menolak kejutan.

“Kejujuran adalah fondasi yang jauh lebih kuat daripada jalur selebar apa pun,” tuturnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup