Èwè Dèèt, Kudapan Priangan Timur yang Bikin Orang Sunda Senyum-senyum

KUNINGANSATU.COM,- Kalau dengar namanya aja udah bikin senyum-senyum, apalagi kalau nyicip rasanya. Yup, Èwè Dèèt adalah camilan manis asal Priangan Timur yang unik dari segi nama dan ngangenin dari segi rasa. Camilan satu ini sudah jadi bagian dari kekayaan kuliner Sunda yang kadang terlupakan oleh generasi mudaDi balik nama yang bikin dahi berkerut dan pipi tertarik ke samping, Èwè Dèèt ternyata bukan hal aneh di dunia kuliner Sunda.

“Èwè” dalam bahasa Sunda memang punya makna yang agak bikin salah fokus, sementara “Dèèt” berarti pendek. Meski terdengar nyeleneh, makanan ini adalah camilan buhun alias tradisional yang kaya akan cerita dari masa laluBahan dasarnya sederhana tapi jenius. Daging kelapa setengah tua dipadukan dengan gula aren atau nira yang baru direbus sampai hampir menjadi gula. Rasanya unik, perpaduan gurih, manis, dan renyah sekaligus membuat lidah menari.

Proses pembuatannya sederhana tapi penuh cinta, terutama bagi para perajin gula aren di pedalaman Ciamis. Di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, camilan ini masih sesekali dibuat dan disantap saat nira masih hangat. Sensasi hangat dan legitnya bikin siapa saja ketagihanSayangnya, Èwè Dèèt sekarang jarang muncul di pasaran. Generasi muda banyak yang belum kenal, padahal dulu camilan ini sempat menjadi favorit di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Sekarang lebih sering dibuat di rumah, dan rasanya seperti harta karun yang disimpan di sudut dapur. Ada rasa nostalgia, ada rasa ingin kembali ke masa kecil yang manis dan sederhanaKalau kamu penasaran, nggak ada salahnya mencoba bikin Èwè Dèèt versi rumahan. Siapkan kelapa setengah tua, gula aren, dan niat manis buat ngulik resep tradisional Sunda.

Setelah dicicip, kamu bakal ikut menyeringai sambil bilang, “Euh, nyak pisan ieu mah,” sambil merasakan hangatnya sejarah yang tersimpan di setiap gigitan.

Selain rasa, Èwè Dèèt juga membawa cerita tentang budaya, kerja keras perajin gula, dan kebiasaan masyarakat Priangan Timur. Ini bukan sekadar camilan, tapi simbol dari warisan kuliner yang layak dijaga. Jadi kalau ketemu camilan ini, jangan cuma lihat namanya, tapi rasakan sejarah dan kelezatan yang bikin lidah dan hati ikut tersenyum.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup