Kapungkur kantos ningali aya buku ngeunaan Basa Sunda Wewengkon Kuningan. Manawi saé pisan upami dicétak/diayakeun deui kanggé disebar ka sakola atanapi taman bacaan. Atanapi didamel buku digital saluyu sareng jaman
Bahasa Sunda Kuningan, Dari ‘Menit’ Sampai ‘Kewong’, Kamu Tahu Artinya?
KUNINGANSATU.COM,- Kabupaten Kuningan tidak hanya dikenal dengan alamnya yang memesona, tetapi juga dengan kekayaan bahasa yang unik. Dialek Sunda Kuningan memiliki kosakata khas yang sering membuat bingung orang luar. Bahkan, antar desa atau antar gang pun bisa berbeda penyebutan kata. Tak heran, muncul ungkapan, “Jangan ngaku orang Kuningan kalau belum tahu arti kata-kata ini!”
Salah satu kata yang paling populer adalah “menit”. Jika di Sunda Priangan kata lieur atau rieut dipakai untuk menyebut pusing, masyarakat Kuningan justru menggunakan kata “menit”. Contohnya, “Harga barang naek, nyieun menit bae,” yang berarti harga barang naik bikin kepala pusing. Kata ini begitu khas hingga menjadi identitas tersendiri.
Kosakata lainnya adalah “kewong”, yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari meski artinya sulit dipahami orang luar. Ada juga “gendul” yang berarti botol, “teoh” untuk menyebut bawah, serta “pia-pia” dan “doli” yang masih menjadi teka-teki bagi sebagian penutur. Tak ketinggalan, kata “kaligane” yang berarti tiba-tiba, sering digunakan untuk menegaskan peristiwa mendadak.
Selain itu, orang Kuningan juga akrab dengan kata “ageh” atau “gageh” yang berarti ayo. Untuk sesuatu yang kasar, ada kata “babet” (lempar) dan “tibabet” (jatuh). Sementara kata “rubiah” digunakan untuk menyebut istri, berbeda dengan kosakata Sunda baku. Kosakata lain yang tak kalah menarik antara lain “ilok” (terkadang), “kamangkara” (benarkah), “enjag/enjah” (tidak mau), “jenuk/ngayeh” (banyak), hingga “boral” yang berarti boros.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kuningan mencatat lebih dari 2.200 kosakata khas Sunda Kuningan dalam Kamus Wewengkon Kuningan. Dokumentasi ini menjadi upaya pelestarian agar kekayaan bahasa daerah tidak hilang dimakan zaman. Pasalnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya. Bagi masyarakat Kuningan, mengenal kata-kata ini berarti ikut menjaga jati diri leluhur.
Keunikan bahasa Sunda Kuningan juga terlihat dari logatnya yang lebih tegas dibandingkan Sunda Priangan yang mendayu. Menariknya, variasi kata bisa berbeda antar desa, seperti di Darma, Parung, dan Cikupa, bahkan antar gang di Kelurahan Pasapen. Di sana, masyarakat menyebut “kadia” untuk ke situ, bukan kadinya. Fenomena ini membuktikan betapa kaya dan berwarnanya bahasa Sunda di Kuningan.
Dengan ragam kosakata unik ini, bahasa Sunda Kuningan tak hanya sekadar dialek, melainkan sebuah “harta karun budaya”. Jadi, kalau Anda asli Kuningan tapi belum tahu arti kata menit, kewong, atau kaligane, mungkin saatnya belajar lagi sebelum benar-benar mengaku Urang Kuningan asli. (*)
















