Tak Sekadar Baca Buku, Reading Book PMII STAI Kuningan Bangkitkan Nalar Kritis Mahasiswa

KUNINGANSATU.COM,- Di tengah derasnya arus informasi serba cepat, budaya membaca di kalangan mahasiswa kian tergerus. Menyikapi hal itu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAI Kuningan menggelar kegiatan Reading Book pada Sabtu, (11/4/26), bertempat di Sekretariat PK PMII STAI Kuningan.

Kegiatan ini diikuti oleh kader dan mahasiswa dengan mengangkat tema “Apa Itu PMII?” serta “Menjadi Kader PMII”. Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang membaca bersama, tetapi juga ruang diskusi untuk memperdalam pemahaman tentang organisasi dan nilai-nilai perjuangannya.

Ketua PK PMII STAI Kuningan, M. Fakhri Fahruroji, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar membaca buku. Menurutnya, membaca merupakan pintu masuk untuk membuka cara pandang serta memperkuat kesadaran kader terhadap peran dan arah gerak organisasi.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang membuka buku, tetapi membuka cara pandang. Dari membaca, kader tidak hanya tahu, tetapi mengerti dan kemudian bergerak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di tengah rutinitas akademik yang padat, mahasiswa kerap terjebak pada pola belajar formal tanpa menggali makna ilmu secara mendalam. Karena itu, forum literasi seperti ini dinilai penting sebagai pengingat bahwa ilmu harus dicari, dibaca, dan didiskusikan secara aktif.

Selain itu, kegiatan Reading Book juga mendorong tumbuhnya budaya dialog dan berpikir kritis di kalangan kader. Diskusi yang berlangsung membuka ruang pertukaran gagasan, memperkaya perspektif, sekaligus melatih keberanian mahasiswa dalam menyampaikan pendapat.

“Seorang mahasiswa yang jarang membaca ibarat berjalan tanpa arah; sebab buku adalah kompas yang menuntun cara berpikir dan menentukan langkah perjuangan,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, PMII STAI Kuningan berupaya menghidupkan kembali tradisi literasi di lingkungan kampus. Harapannya, mahasiswa tidak hanya menjadikan membaca sebagai kewajiban akademik, tetapi sebagai kebutuhan intelektual dan refleksi diri.

Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada seluruh kader untuk menjadikan membaca sebagai langkah awal dalam menciptakan perubahan. Sebab, dari lembaran-lembaran yang dibaca dengan kesadaran, lahir pemikiran dan gerakan yang memberi makna.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup