Mahasiswa KKN UNISA Kuningan Dilepas, Rektor Titip Pesan: Jangan Cuma Datang ke Desa
KUNINGANSATU.COM,- Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan resmi melepas mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Prosesi pelepasan berlangsung di Ruang Aula Kampus UNISA Kuningan, Cigugur, Rabu (29/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya dituntut menjalankan program yang telah disusun kampus, tetapi juga diharapkan mampu membaca kebutuhan masyarakat dan berkolaborasi dengan pemerintah desa.
Rektor UNISA Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, S.Ag., M.Si., dalam sambutannya meminta mahasiswa menjadikan KKN sebagai ruang belajar langsung dari kehidupan masyarakat.
Menurutnya, tidak seluruh program yang telah dirancang harus dipaksakan untuk dilaksanakan apabila kondisi di lapangan menunjukkan adanya kebutuhan lain yang lebih mendesak.
“Tidak harus 100 persen seluruhnya dilaksanakan. Kondisi lapangan yang akan nanti adik-adik sekalian sesuaikan dengan program yang cocok,” ujar Nurul Iman.
Ia menekankan, setiap desa memiliki persoalan dan prioritas yang berbeda. Karena itu, mahasiswa diminta terlebih dahulu berdialog dengan pemerintah desa untuk mengetahui arah pembangunan, persoalan sosial, hingga kebutuhan masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah persoalan stunting. Mahasiswa diharapkan tidak sekadar mengetahui jumlah kasus, tetapi dapat membantu menggali kondisi secara lebih konkret di tingkat desa.
“Kalau selama ini stunting di desa yang sampai ke kabupaten maupun provinsi hanya jumlahnya, adik-adik sekalian di desa mungkin kolaborasi dengan Pak Kuwu, Ibu Kuwu, bisa tahu anaknya yang mana dan treatment apa yang harus dilakukan,” katanya.
Menurut Nurul Iman, data dan temuan langsung dari lapangan dapat menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah intervensi.
Ia kemudian mencontohkan pelaksanaan KKN kolaborasi beberapa tahun sebelumnya yang mengangkat persoalan kemiskinan ekstrem. Saat itu, mahasiswa diterjunkan ke sejumlah desa untuk menggali penyebab kemiskinan secara langsung. Hasil temuan mahasiswa kemudian direkomendasikan kepada pemerintah daerah.
Selain persoalan sosial, mahasiswa juga didorong membantu pengembangan potensi ekonomi desa. Rektor menyoroti masih adanya pelaku industri kecil di desa yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital, mulai dari pembuatan label produk hingga pemasaran melalui internet.
“Dunia inilah yang kemudian adik-adik sekalian Gen Z ini memperkenalkan. Mungkin di desa itu ada orang tua yang sudah berusaha lama membuat kerajinan, memiliki keunikan, kita angkat,” tuturnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah pola pemasaran. Produk desa tidak lagi harus dibawa secara langsung ke pasar karena dapat dipromosikan melalui platform digital.
Di sisi lain, Nurul Iman mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh komentar negatif di media sosial selama mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan KKN.
Ia menilai kemampuan mengemas kegiatan dalam bentuk video dan konten digital merupakan bagian dari proses belajar mahasiswa di era saat ini.
“Kalau ada yang menyindir segala macam, jangan dimasukkan hati. Itulah dunia digital,” pesannya.
Selain tugas pengabdian, mahasiswa juga diminta menjaga nama baik almamater selama berada di tengah masyarakat. Rektor menegaskan, mahasiswa KKN akan menjadi sorotan karena membawa nama UNISA Kuningan.
Ia meminta mahasiswa menjaga akhlak, menjalankan ibadah, aktif mengikuti kegiatan masyarakat, serta tidak hanya berdiam diri di tempat tinggal selama masa KKN.
“Waktunya salat, berangkat ke masjid. Waktunya bekerja, waktunya bersama-sama dengan desa mengadakan kegiatan, bergerak,” tegasnya.
Nurul Iman juga memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan dan keselamatan mahasiswa. Ia mengingatkan peserta agar menjaga pola makan serta berhati-hati ketika berkendara.
Pesan tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman ketika mengikuti kegiatan KKN sebelumnya yang diwarnai kejadian peserta mengalami musibah.
“Jaga makanan. Perut kosong dari pagi, sore-sore makan seblak, lambungnya kena. Selain itu tadi, akhlak perilaku, makanan, yang terakhir di jalan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan Dr. Carlan, S.Pd., M.MPd., hadir mewakili Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar.
Dalam sambutannya, Carlan menyampaikan sejumlah pesan Bupati yang harus diperhatikan mahasiswa selama melaksanakan KKN.
Salah satu persoalan yang dititipkan adalah keberadaan anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Menurut Carlan, terdapat sekitar 10.000 anak usia 7–18 tahun di Kabupaten Kuningan yang masuk dalam kategori tersebut.
Mahasiswa diminta membantu pemerintah menemukan anak-anak yang tidak bersekolah di wilayah tempat mereka melaksanakan KKN, sekaligus menggali penyebabnya.
“Ditanya apa alasannya, mungkin faktornya banyak: persoalan ekonomi, persoalan sosial, persoalan keluarga, atau persoalan lain. Solusinya seperti apa?” kata Carlan.
Ia menjelaskan, pemerintah telah memiliki jalur pendidikan nonformal melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Data yang ditemukan mahasiswa nantinya diharapkan dapat disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan penanganan.
“Temukan anak-anak yang usia sekolah tapi tidak bersekolah. Didata, pada saatnya sampaikan datanya kepada kami, karena ini harus kami selesaikan,” tegasnya.
Selain anak tidak sekolah, persoalan stunting juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Mahasiswa diminta berkolaborasi dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk melihat berbagai faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut, termasuk lingkungan, rumah dan keluarga.
Carlan menilai keberadaan mahasiswa di desa dapat menjadi kesempatan untuk membantu pemerintah memperoleh gambaran persoalan secara lebih dekat.
Carlan juga meminta mahasiswa menjaga nama baik kampus selama menjalankan KKN. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menunjukkan perilaku yang baik sekaligus membawa citra positif almamater di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, mahasiswa juga diminta ikut memperkenalkan UNISA Kuningan kepada masyarakat, khususnya kepada calon mahasiswa baru.
“Kalian harus mampu menjadi marketing, memasarkan Unisa. Pasarkan Unisa dengan bangga,” ujarnya.
Carlan kemudian secara resmi melepas peserta KKN UNISA Kuningan tahun 2026 atas nama Bupati Kuningan.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, KKN Reguler Universitas Al-Khairiyah/UNISA Kuningan tahun 2026 dengan ini saya nyatakan dilepas,” ucapnya.
Pelepasan tersebut menandai dimulainya pelaksanaan KKN mahasiswa UNISA Kuningan di sejumlah wilayah. Para mahasiswa diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
KKN tahun ini juga diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan program kerja semata, tetapi menghasilkan pemetaan persoalan dan potensi desa yang dapat menjadi bahan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat.
Dengan demikian, kehadiran mahasiswa di desa diharapkan benar-benar memberikan manfaat, baik melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan pendidikan, penanganan persoalan sosial, pengembangan ekonomi lokal maupun pemanfaatan teknologi digital.
















