Pilkada Sudah Lewat, Mantan Timses Curhat ‘Tak Diingat’

KUNINGANSATU.COM,- Di kabupaten kecil kaki Gunung Ciremai, perjuangan politik tidak selalu berakhir manis bagi mereka yang berada di garis depan. Dadan Satyavadin, mantan tim sukses dan relawan yang mengantar kemenangan calon kepala daerah, mengungkap kekecewaannya melihat perjuangan yang dulu dijalani tanpa pamrih kini seolah terlupakan, Kamis (9/10/2025).
Menurut Dadan, masa kampanye dipenuhi kerja keras yang tak kenal lelah. Relawan tidur di teras rumah warga, berbagi rokok dan cerita sambil menyusun strategi di malam-malam panjang. Semuanya dilakukan dengan keyakinan bahwa perjuangan itu akan membawa kebaikan. Mereka disebut pejuang, dipanggil keluarga besar, bahkan dijanjikan akan membangun bersama setelah kemenangan.
Namun, setelah kemenangan diraih, banyak relawan yang dulunya menjadi ujung tombak kini tak lagi diingat. Pesan WhatsApp tak dibalas, nomor ponsel diarsipkan, dan kontak yang dulu dekat terasa asing. Dadan menilai janji manis sebelum menang tak diikuti dengan tindakan nyata pasca kemenangan.
“Kami tidak ingin jabatan atau proyek. Kami cuma ingin diingat. Kemenangan ini lahir dari peluh kami juga, bukan dari ruang ber-AC dan senyum depan kamera,” kata Dadan.
Ia menambahkan, beberapa kawan relawan kini kembali ke ladang atau berdagang kecil-kecilan. Wajah mereka tetap ramah, meski lelah jelas terlihat, dan luka akibat terlupakan masih tersimpan. Menurut Dadan, yang paling menyakitkan bukan kekalahan, tetapi kemenangan yang membuat perjuangan mereka hilang dari ingatan.
Dadan mengutip Plato tentang keadilan, bahwa setiap orang seharusnya menempati tempat yang seharusnya. Namun di lapangan, menurutnya, yang pantas sering tersingkir, sementara mereka yang pandai menonjolkan diri atau menjilat pejabat justru naik ke depan.
“Sejarah tidak selalu mencatat siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi siapa yang menyalakan api perjuangan. Kami, para relawan yang kini tak lagi disebut nama, akan tetap hidup dalam ingatan rakyat,” ujar Dadan.
Bagi Dadan, tulisan ini adalah jeritan hati bagi semua relawan dan simpatisan. Sebuah pengingat bahwa kemenangan bukan hanya milik mereka yang duduk di kursi, tetapi juga milik mereka yang berlari ketika semua masih gelap.
“Setelah peluh kering, nama pun hilang,” tutup Dadan.***
















