Mimbar Kebangsaan STAI Kuningan: Mahasiswa Diingatkan Bahaya Fanatisme Politik

KUNINGANSATU.COM,- Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) STAI Kuningan menggelar kegiatan Mimbar Kebangsaan di STAIKU Minggu (13/4/26) , sebagai upaya memperkuat kapasitas pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa) dalam menjalankan roda organisasi secara sehat dan berintegritas.
Kegiatan yang mengusung subtema “Menjaga Nurani Demokrasi” ini dilaksanakan dengan melibatkan pengurus Ormawa STAI Kuningan. Forum tersebut menjadi ruang diskusi kritis terkait dinamika kebangsaan, khususnya fenomena fanatisme politik praktis di kalangan mahasiswa.
Ketua pelaksana kegiatan, Fadlan, mengungkapkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam politik praktis kini semakin terlihat, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini adalah potret nyata. Media sosial dipenuhi polarisasi, bahkan di lingkungan sekitar pun mahasiswa mulai terlibat dalam politik praktis. Fenomena echo chamber memperkuat fanatisme dan membatasi perspektif objektif. Ditambah lagi isu SARA dan polarisasi sosial yang kerap dijadikan instrumen konsolidasi massa,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan berbagai tantangan serius, mulai dari fragmentasi internal di kalangan mahasiswa hingga tekanan akademik yang semakin kompleks. Perbedaan afiliasi politik kerap menjadi pemicu perpecahan yang melemahkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan.
Melalui kegiatan ini, MPM STAI Kuningan mendorong mahasiswa untuk kembali pada jati diri intelektualnya. Di antaranya dengan menjaga independensi organisasi, mengoptimalkan pemanfaatan media digital secara cerdas, serta mengedepankan politik nilai dibanding politik figur.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk menghidupkan gerakan advokasi sosial, menjunjung tinggi etika politik, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi politik yang sehat dan konstruktif.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Dr. Dedy Setiawan, M.E., yang memberikan pandangan terkait peran strategis mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Mahasiswa memegang peran krusial dalam dinamika sosial dan kenegaraan. Integritas dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur harus menjadi fondasi utama. Mahasiswa itu moral force, bukan political commodity,” tegasnya.
Ia menambahkan, mahasiswa dituntut untuk tetap objektif terhadap kekuasaan serta menempatkan etika di atas kepentingan jangka pendek.
“Ini semacam manifesto mahasiswa. Mahasiswa harus menjadi jembatan bangsa, bukan pemecah belah. Cara berpikirnya harus berorientasi jangka panjang, untuk masa depan bangsa, bukan sekadar kesenangan sesaat,” pungkasnya.
Melalui Mimbar Kebangsaan ini, MPM STAI Kuningan berharap lahir generasi mahasiswa yang kritis, berintegritas, serta mampu menjaga nurani demokrasi di tengah derasnya arus politik praktis.


















