Korupsi Etika Lebih Berbahaya dari Korupsi Uang, Ustadz Edin Tegaskan Pentingnya Pagar Moral

Peran masyarakat sipil dan ormas

Penindakan pidana penting, namun sering datang terlambat. Korupsi etika bergerak di wilayah abu-abu yang belum tentu memenuhi unsur pidana, tetapi jelas melanggar standar kepantasan publik. 

“Hukum itu pagar kedua. Pagar pertama adalah nurani, akhlak, dan sistem etik yang tegas,” ucap Ustadz Edin.

Menurutnya, jika etika ditegakkan sejak awal, banyak penyimpangan dapat diputus di hulu.

“Kita butuh mekanisme etik yang operasional cepat, transparan, dan berorientasi pemulihan kepercayaan,” tambahnya.

Sebagai salah satu senior aktivis FPI, Ustadz Edin menekankan peran ormas Islam dan masyarakat sipil.

“Tugas kami mengingatkan, menasihati dengan hikmah, dan mengawal ruang publik agar tetap beradab. Kritik adalah kasih sayang sosial,” ujarnya. Ia mengajak warga melaporkan dugaan pelanggaran etika melalui kanal resmi, mendukung jurnalisme yang independen, dan menolak politik transaksional.

“Nilai-nilai Islam yaitu amanah, ‘adl (keadilan), ihsan (kebaikan) bukan slogan. Ia harus menjadi standar kebijakan dan perilaku. Ketika nilai ini hidup, korupsi etika kehilangan lahan,” tegasnya.

Di ujung perbincangan,Ustadz Edin menekankan pentingnya membangun budaya malu.

“Budaya malu itu bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menjaga martabat. Pejabat yang keliru harus berani mengakui, meminta maaf, dan memperbaiki. Itulah kepemimpinan yang dewasa,” katanya.

Ia menutup dengan seruan sederhana namun tajam “Mari rawat pagar pertama yaitu etika. Jika pagar ini tegak, insya Allah pagar-pagar lainnya ikut kuat. Kepercayaan publik bukan warisan, melainkan amanah yang harus dibayar lunas setiap hari”.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup