Korupsi Etika Lebih Berbahaya dari Korupsi Uang, Ustadz Edin Tegaskan Pentingnya Pagar Moral

Wajah-wajah Korupsi Etika di Ruang Publik

Dalam perbincangannya Ustadz Edin memaparkan, setidaknya ada lima praktik korupsi etika yang kerap muncul di tingkat lokal maupun nasional yang kelima pola ini saling berkelindan.

Pertama, penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi/keluarga. 

“Bentuknya bisa seperti memfasilitasi proyek bagi kroni, akses istimewa bagi jaringan dekat, atau keputusan publik yang bias kepentingan. Walau sulit dibuktikan pidananya, secara etika ini pengkhianatan terhadap amanah,” kata Ustadz Edin.

Kedua, korupsi waktu dan tanggung jawab jabatan.

“Seperti bolos rapat, rendahnya serap aspirasi, prioritas kerja yang menyimpang dari mandat. Gaji dibayar dari uang rakyat, tetapi kewajiban diabaikan. Itu merampas hak publik,” ujarnya.

Ketiga, membungkam kritik dan menekan kebebasan pers.

“Hal ini bisa dilakukan dalam bentuk intervensi pemberitaan, intimidasi, hingga transaksi gelap untuk menutup informasi. Keterbukaan adalah syarat akuntabilitas. Menutup kritik berarti menutup jalan perbaikan,” tegasnya.

Keempat, manipulasi agama/moral untuk pembenaran politik.

“Seperti penggunaan simbol-simbol religius untuk menutupi perilaku menyimpang. Agama dijadikan perisai kepentingan. Ini menodai nilai yang mestinya menjadi suluh,” ucapnya.

Kelima, pelanggaran etika dalam ranah personal yang berdampak publik

Seperti tindakan yang mencederai komitmen moral dan teladan misalnya keputusan keluarga yang abrupt (mendadak, tiba-tiba) dan tak dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i maupun sosial.

“Secara hukum mungkin sah. Tetapi pejabat publik memikul standar teladan. Ketika teladan runtuh, martabat lembaga ikut tercoreng,” tutur Ustadz Edin.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup