GPM Kuningan Jual Produk Non-Pokok? Ini Penjelasan Wahyu Hidayah
KUNINGANSATU.COM,- Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kabupaten Kuningan menuai perhatian publik setelah ditemukannya perbedaan komoditas yang dijual di dua lokasi berbeda dalam dua hari berdekatan .
Pantauan wartawan di lapangan, pada GPM yang digelar Kamis (26/2/2026) di Babakanreuma, komoditas yang dijual bahan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, sayuran dan bahan pokok lainnya . Tidak terlihat produk olahan maupun minuman kemasan.
Saat itu, wartawan sempat menanyakan hal tersebut kepada Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah.
“Pak, nggak ada tambahan kayak sirup atau buah gitu?” tanya wartawan.
Menanggapi hal tersebut, Wahyu menjelaskan bahwa GPM fokus pada komoditas pangan tertentu.
“Oh nggak. Karena itu memang bukan perhitungan dalam volatile food ya. Kita bergerak di bahan-bahan pangan yang rentan terhadap perubahan harga dan merupakan bahan pangan pokok,” ujarnya.
Namun, kondisi berbeda terlihat keesokan harinya saat GPM digelar Jumat (27/2/2026) di Desa Panawuan, Kecamatan Cigandamekar. Berdasarkan pantauan di lokasi, selain bahan pangan pokok, terdapat pula produk minuman bersoda, nugget, dan mie instan yang dijual kepada masyarakat.
Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan . Saat dikonfirmasi di lokasi, Dr. Wahyu Hidayah mengaku telah menegur jajarannya terkait keberadaan produk tersebut.
“Tadi pagi saya datang langsung dan menegur kabid, menanyakan perihal adanya produk-produk itu,” kata Wahyu kepada wartawan.
Ia menegaskan, jika keberadaan produk tersebut dipermasalahkan masyarakat, maka ke depan tidak akan lagi diizinkan dalam pelaksanaan GPM.
“Kalau memang jadi persoalan, besok-besok tidak usah ada lagi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Diskatan Kuningan, Ating Setiawan, memberikan klarifikasi terkait asal-usul produk tersebut.
Menurut Ating, produk minuman bersoda, nugget, dan mie instan dibawa langsung oleh pedagang tanpa koordinasi sebelumnya dengan pihak penyelenggara.
“Pedagang sayuran datang membawa produk itu tanpa ada koordinasi dengan kami,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa produk tersebut tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah.
“Tidak ada subsidi sama sekali dari pemerintah. Itu murni mereka membawa sendiri dan harga yang dijual juga harga normal seusai dengan harga pasaran,”pungkasnya.
Tinggalkan Balasan
1 Komentar
-
Adi Max
Sekjen Bagi Sembako
















