Gerakan Tanam Serentak di Kuningan, Diskatan Ungkap Capaian dan Kebutuhan Petani

KUNINGANSATU.COM, – Kabupaten Kuningan dipercaya menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Gerakan Tanam Serentak yang digelar Kementerian Pertanian dalam rangka mempercepat peningkatan produksi pangan nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Kertaungaran, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah pusat yang menunjuk Kuningan sebagai tuan rumah pelaksanaan gerakan tanam serentak.

Menurut Wahyu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus mengakselerasi peningkatan produksi pangan, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah Kabupaten Kuningan dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan tanam serentak untuk musim tanam pertama Oktober-Desember. Walaupun tahun ini musim kemaraunya agak lebih panjang, capaian luas tambah tanam di Kabupaten Kuningan sampai sekarang bisa terselesaikan dengan baik sesuai target,” ungkap Wahyu.

Ia menjelaskan, pelaksanaan gerakan tanam kali ini dilakukan di kawasan yang masuk program Optimalisasi Lahan (Oplah), bukan di lokasi cetak sawah baru sebagaimana tercantum dalam undangan awal.

Kabupaten Kuningan sendiri memperoleh alokasi program Oplah seluas 2.236 hektare pada 2025 dan tambahan 725 hektare pada 2026.

Wahyu juga memaparkan perkembangan sektor pertanian Kuningan berdasarkan perbandingan musim tanam 2024-2025 dengan 2025-2026.

Pada musim tanam 2024-2025, luas tanam tercatat mencapai 64.185 hektare. Sementara pada musim tanam 2025-2026, hingga Oktober 2026, luas tanam sudah mencapai 62.077 hektare.

Untuk luas panen, pada periode sebelumnya tercatat 64.188 hektare, sedangkan periode berjalan hingga Oktober mencapai 55.923 hektare.

Adapun produksi padi pada musim sebelumnya mencapai 396.388 ton. Sementara pada musim tanam 2025-2026, produksi hingga September 2026 tercatat sebanyak 343.069 ton.

Wahyu optimistis capaian tersebut masih berpeluang meningkat karena masih terdapat waktu tiga bulan hingga akhir tahun.

“Kalau melihat data, kita masih punya waktu tiga bulan. Kekurangan luas tanam sekitar 2.100 hektare, insyaallah bisa tercapai. Untuk produksi, kita masih mengejar sekitar 53.319 ton. Mudah-mudahan dalam tiga bulan ke depan bisa terlampaui,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya Kabupaten Kuningan berhasil mencatat surplus beras sebanyak 119.933 ton. Pemerintah daerah berharap surplus tersebut dapat kembali dipertahankan, bahkan ditingkatkan pada tahun ini.

Di balik capaian tersebut, Wahyu mengakui masih terdapat sejumlah kebutuhan yang perlu mendapat perhatian pemerintah pusat, terutama terkait infrastruktur irigasi dan ketersediaan alat serta mesin pertanian (alsintan).

Menurutnya, sejumlah wilayah di Kabupaten Kuningan memiliki potensi air yang memungkinkan petani melakukan tiga kali tanam dalam setahun. Namun, kemarau panjang membuat sebagian wilayah hanya mampu menjalankan sekitar 2,5 kali musim tanam.

Selain persoalan air, keterbatasan traktor juga menjadi kendala. Petani harus bergantian menggunakan alsintan sehingga proses pengolahan lahan di sejumlah wilayah belum bisa berjalan bersamaan.

“Kami masih membutuhkan bantuan alsintan, khususnya traktor roda dua. Tidak perlu roda empat karena kondisi wilayah di Kabupaten Kuningan lebih membutuhkan traktor roda dua. Selain itu, kami juga membutuhkan power thresher karena tenaga kerja pertanian sekarang mulai berkurang,” paparnya.

Menariknya, penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Kuningan tidak hanya difokuskan pada komoditas padi. Pemerintah daerah juga mulai mendorong pengembangan tanaman pangan lainnya, terutama ubi jalar dan singkong.

Hal tersebut disampaikan Wahyu ketika menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan gerakan tanam singkong di tengah meningkatnya harga bahan baku tepung tapioka yang dikeluhkan para pelaku usaha makanan, termasuk pedagang cilok.

Ia menyebutkan, Kabupaten Kuningan mendapatkan target pengembangan ubi jalar seluas sekitar 2.500 hektare. Program tersebut sejalan dengan Gerakan Menanam Boled (Gembol) yang sebelumnya telah diluncurkan Bupati Kuningan.

Sementara untuk komoditas singkong, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga memberikan target pengembangan dengan luasan minimal 1.800 hektare.

“Untuk singkong, kami juga mendapatkan target dari Pak Menteri dengan luasan minimal 1.800 hektare. Harapannya bisa dikembangkan hingga 3.500 hektare sehingga Kuningan juga bisa menjadi salah satu lumbung ubi jalar dan singkong di Indonesia,” kata Wahyu.

Pengembangan dua komoditas tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat diversifikasi pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani dan mendukung kebutuhan industri olahan pangan.

Dengan demikian, Gerakan Tanam Serentak di Desa Kertaungaran bukan sekadar agenda penanaman padi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Kabupaten Kuningan sebagai salah satu daerah penyangga produksi pangan, sekaligus mengembangkan potensi komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup