World Sight Day 2026, Dinkes Kuningan Gelar Skrining Massal

KUNINGANSATU.COM,- Menjaga kesehatan mata tidak harus menunggu sampai penglihatan terganggu. Pesan itu mengemuka dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2026 tingkat Provinsi Jawa Barat yang digelar di Aula Bank bjb Kuningan, lantai 3, Rabu (28/10/2026).

Sebanyak 150 anak sekolah dan lanjut usia (lansia) menjadi sasaran skrining mata dalam kegiatan yang mengusung tema nasional “Skrining Mata, Langkah Kecil untuk Manfaat Besar” tersebut. Selain pemeriksaan mata, kegiatan ini juga diisi dengan pemberian kacamata gratis secara simbolis kepada perwakilan peserta.

Kegiatan yang melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Kementerian Kesehatan RI, organisasi profesi, serta mitra kesehatan itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. H. Edi Martono, MARS, dalam laporannya menyampaikan bahwa persoalan gangguan penglihatan perlu mendapat perhatian serius karena berdampak pada kualitas hidup masyarakat hingga kerugian ekonomi.

“Penanggulangan gangguan penglihatan kini menjadi prioritas yang mendesak. Mengingat dampak kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas hidup masyarakat di Indonesia telah mencapai angka Rp84,7 triliun dan diproyeksikan terus meningkat jika kita tidak melakukan intervensi sejak dini,” ujarnya.

Menurut Edi, peringatan World Sight Day 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pelayanan kesehatan mata melalui langkah promotif, preventif, skrining, dan pemberdayaan masyarakat.

Tema global “Love Your Eyes” juga menjadi pengingat bahwa kesehatan mata perlu dijaga sepanjang usia. Sementara tema yang diangkat di Jawa Barat, yakni “Jaga Penglihatan, Jaga Masa Depan: Generasi Sehat, Lansia Tetap Mandiri”, menekankan pentingnya penglihatan bagi tumbuh kembang anak sekaligus kemandirian lansia.

Perwakilan Kementerian Kesehatan RI, dr. Kiki Antoni, yang mewakili Direktur Penyakit Tidak Menular, menegaskan bahwa skrining mata merupakan langkah awal untuk menemukan gangguan penglihatan sebelum kondisinya semakin berat.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan kesehatan mata.

“Skrining merupakan pintu masuk untuk menemukan gangguan penglihatan sejak dini. Melalui skrining kita dapat mengenali gangguan tajam penglihatan dan kelainan refraksi, serta mengidentifikasi kecurigaan terhadap katarak, glaukoma, retinopati, atau gangguan mata lainnya yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.

Namun, menurutnya, pemeriksaan awal saja tidak cukup. Setiap temuan harus diikuti dengan penanganan yang sesuai, mulai dari edukasi, pemberian kacamata untuk mengoreksi kelainan refraksi, pemeriksaan lanjutan, hingga rujukan apabila diperlukan.

Kiki juga menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan setelah skrining agar masyarakat yang terindikasi mengalami gangguan penglihatan tidak berhenti pada tahap pemeriksaan semata.

Perhatian khusus, lanjut Kiki, perlu diberikan kepada anak-anak usia sekolah. Gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dapat menghambat proses belajar dan memengaruhi tumbuh kembang mereka.

Ia mengimbau orang tua dan guru untuk mengenali tanda-tanda gangguan penglihatan, seperti anak sering menyipitkan mata, membaca dengan jarak terlalu dekat, atau kesulitan melihat tulisan di papan kelas.

“Deteksi dan koreksi sejak dini sangat penting agar gangguan penglihatan itu tidak menjadi hambatan dalam proses belajar mereka,” katanya.

Selain anak-anak, lansia juga menjadi kelompok penting dalam upaya pencegahan gangguan penglihatan. Penglihatan yang terjaga membantu mereka mempertahankan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari serta meningkatkan kualitas hidup.

Kiki menegaskan, kesehatan mata bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Pemerintah daerah, sekolah, keluarga, organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, dunia usaha, dan mitra pembangunan perlu bergerak bersama memperluas akses pemeriksaan mata.

Dalam laporannya, Edi Martono menyebutkan kegiatan tersebut diikuti total 220 peserta. Rinciannya, 150 anak sekolah dan lansia sebagai sasaran skrining, 37 kepala puskesmas se-Kabupaten Kuningan, serta 33 undangan dari unsur lintas sektor.

Agenda kegiatan meliputi peninjauan skrining mata massal, penyerahan simbolis kacamata gratis kepada perwakilan anak sekolah dan lansia, serta talkshow kesehatan mata bersama dokter spesialis mata yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).

Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan juga menyampaikan apresiasi kepada The Fred Hollows Foundation (FHF) atas dukungan dan pendampingan program kesehatan mata. Dukungan organisasi profesi, termasuk PERDAMI, IROPIN, dan GAPOPIN, turut memperkuat pelaksanaan pemeriksaan refraksi dalam kegiatan tersebut.

Peringatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Hari Kesehatan Mata Nasional ke-62 Tahun 2026 di Kabupaten Kuningan.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap masyarakat semakin terbiasa memeriksakan mata secara berkala, bukan hanya ketika mengalami gangguan. Sebab, langkah sederhana berupa skrining yang disertai tindak lanjut tepat dapat membantu mencegah gangguan penglihatan berkembang lebih jauh dan menjaga kualitas hidup masyarakat di setiap kelompok usia.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup