Glaukoma Bisa Merusak Penglihatan Tanpa Gejala, Ini Peringatannya!
KUNINGANSATU.COM – Pemeriksaan kesehatan mata sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah gangguan penglihatan yang dapat berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Barat yang digelar di Aula Bank BJB Kuningan lantai 3, Rabu (28/10/2026).
Mengusung tema global Love Your Eyes dan tema nasional Skrining Mata, Langkah Kecil untuk Manfaat Besar, kegiatan ini menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata, mulai dari anak-anak usia sekolah hingga kelompok lanjut usia (lansia).
Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Lusi Lesminingwati, S.E., M.M., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mengatakan bahwa pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mata masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, gangguan penglihatan tidak selalu menunjukkan gejala yang mudah dikenali. Salah satu contohnya adalah glaukoma, penyakit mata yang dapat merusak saraf penglihatan secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan berarti pada tahap awal.
“Glaukoma itu disebut silent thief of sight. Tidak terasa sakit, tidak ada keluhan, tetapi tahu-tahu penglihatan sudah terganggu. Ini yang harus kita cermati bersama,” ujar Lusi dalam sambutannya.
Ia menilai, masyarakat selama ini cenderung mengenali gangguan mata sebatas rabun jauh, katarak, mata merah, atau iritasi. Padahal, sejumlah penyakit mata membutuhkan pemeriksaan medis untuk mendeteksi kondisinya sebelum kerusakan semakin parah.
Lusi juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan obat tetes mata tanpa mengetahui kandungan dan aturan pemakaiannya. Menurutnya, edukasi mengenai perawatan mata yang benar perlu terus disampaikan agar masyarakat tidak menganggap remeh gangguan penglihatan.
Dalam kesempatan tersebut, Lusi menyoroti pentingnya pemeriksaan mata bagi anak-anak usia sekolah. Gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dapat memengaruhi aktivitas belajar dan perkembangan anak.
Ia mendorong para guru untuk lebih peka terhadap kemungkinan gangguan penglihatan pada siswa. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketika anak mengalami kesulitan melihat tulisan di papan tulis atau harus terus-menerus memicingkan mata saat membaca.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan mata agar gangguan penglihatan dapat diketahui lebih awal.
Lusi juga mengingatkan pentingnya membatasi penggunaan gawai dan memberikan waktu istirahat bagi mata, terutama bagi anak-anak yang semakin akrab dengan telepon seluler dalam kesehariannya.
Ia mengenalkan metode 20-20-20, yakni setelah menatap layar selama 20 menit, seseorang dianjurkan mengalihkan pandangan ke objek sejauh sekitar 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.
“Jangan sampai kita baru menyadari ada masalah ketika penglihatan sudah terganggu. Deteksi dini harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan sekolah,” pesannya.
Selain anak-anak, kelompok lanjut usia juga menjadi perhatian dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia tahun ini.
Lusi menjelaskan, kesehatan mata berperan penting dalam menjaga kemandirian lansia ketika menjalankan aktivitas sehari-hari. Gangguan penglihatan yang tidak ditangani dapat membatasi mobilitas dan menurunkan kualitas hidup mereka.
Ia turut menyinggung katarak yang banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut. Meski berkaitan dengan proses penuaan, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko atau mempercepat perkembangan katarak, termasuk paparan sinar ultraviolet dalam jangka panjang.
Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, termasuk petani dan pekebun, perlu memperhatikan perlindungan mata. Penggunaan topi atau pelindung yang sesuai dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.
Lusi juga menekankan bahwa upaya menjaga kesehatan mata perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika seseorang mulai mengalami gangguan penglihatan.
Peringatan World Sight Day 2026 tingkat Provinsi Jawa Barat ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, lembaga pendidikan, hingga mitra yang bergerak di bidang kesehatan mata.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani, perwakilan Kementerian Kesehatan, jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Kuningan, serta Direktur RSUD Linggajati.
Sejumlah organisasi profesi, di antaranya Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), organisasi profesi optometris, serta organisasi pengusaha optik, turut dilibatkan dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat.
Menurut Lusi, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar edukasi dan pemeriksaan kesehatan mata dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini untuk membantu meringankan beban layanan kesehatan. Dengan mengetahui gangguan penglihatan sejak awal, masyarakat diharapkan dapat memperoleh penanganan yang sesuai sebelum kondisinya semakin berat.
Lusi mengajak seluruh pihak, termasuk kader PKK, organisasi kemasyarakatan, guru, dan keluarga, untuk berperan aktif menyampaikan informasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.
Melalui peringatan ini, ia berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata semakin meningkat dan pemeriksaan penglihatan menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan.
“Love Your Eyes, sayangi mata Anda. Skrining mata, langkah kecil untuk manfaat besar. Jaga penglihatan, jaga masa depan. Generasi sehat, lansia tetap mandiri,” tuturnya.
Ia berharap upaya bersama tersebut dapat mendukung terwujudnya masyarakat Jawa Barat yang sehat dan produktif, sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.















