Bantah Mesin Roasting Ditinggal Menyala, Keluarga Ungkap Detik-Detik Kebakaran Pentago Coffee

KUNINGANSATU.COM,- Pihak keluarga pemilik Pentago Coffee Roastery memberikan klarifikasi terkait kebakaran yang melanda tempat usaha tersebut pada Senin (20/7/2026). Keluarga memastikan mesin roasting kopi dalam kondisi sudah dimatikan sebelum kebakaran terjadi.

Klarifikasi itu disampaikan Alya, anak kedua Kari bin Asiban selaku pemilik Pentago Coffee Roastery. Menurutnya, terdapat dua mesin roasting di lokasi, yakni mesin berukuran kecil dan besar. Namun, dalam aktivitas sehari-hari, mesin yang lebih sering digunakan adalah mesin berukuran besar.

Alya menjelaskan, sebelum kebakaran terjadi, proses roasting dan pekerjaan lainnya telah selesai dilakukan. Mesin roasting disebut sudah dibersihkan dan dimatikan sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih.

“Mesin roasting sudah dalam keadaan mati. Ada dua mesin, yang kecil dan besar. Yang kecil tidak pernah dipakai, biasanya yang dipakai yang besar. Sekitar jam 11 lebih sudah bersih dan mati,” ujar Alya saat diwawancarai melalui pesan singkat,Selasa (21/7/26).

Ia juga membantah anggapan bahwa pemilik meninggalkan mesin roasting dalam kondisi menyala saat pergi ke masjid untuk menunaikan salat.

Menurut Alya, ayahnya memang rutin melaksanakan salat lima waktu di masjid. Namun, ia menegaskan, Bapa Kari tidak mungkin meninggalkan pekerjaan dalam kondisi mesin roasting masih menyala.

“Bapa saya memang selalu salat lima waktu ke masjid. Sudah tahu kalau ke masjid tidak akan meninggalkan pekerjaan. Mustahil kalau mesin roasting dalam keadaan nyala terus ditinggal,” jelasnya.

Saat kejadian, Ibunya juga berada di rumah yang berada di lokasi usaha tersebut. Namun, ia tidak langsung menyadari adanya kebakaran karena sumber api diduga berada di bagian atas bangunan.

Alya menuturkan, ibunya tidak mencium bau asap maupun merasakan adanya api dari dalam rumah. Api pertama kali diketahui setelah seseorang dari luar memberitahukan bahwa terdapat kobaran api kecil di bagian atas bangunan.

“Api ternyata di atas para, bukan di bawah. Ada orang dari luar yang memberi tahu bahwa ada api di atas,” katanya.

Lebih lanjut, Alya menyebut kebakaran mulai diketahui sekitar pukul 12.00 WIB lebih, beberapa saat setelah ayahnya berangkat ke masjid. Saat itu, mesin roasting dipastikan telah mati sekitar 45 menit hingga satu jam sebelumnya.

“Bapa masih sempat santai setelah selesai roasting dan pekerjaan lainnya. Setelah itu berangkat ke masjid. Beberapa menit kemudian ada yang memberi tahu ada api kecil di atas, lalu disiram oleh mamah saya. Tapi ternyata sudah tidak bisa dipadamkan,” ungkap Alya.

Upaya pemadaman kemudian dilakukan dengan bantuan warga sekitar. Namun, kondisi cuaca yang panas disertai angin membuat api semakin sulit dikendalikan.

“Waktu kejadian sudah dibantu warga, cuma kondisi di luar panas dan angin, jadi memang susah,” tuturnya.

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang. Namun, berdasarkan keterangan keluarga, kebakaran tersebut dipastikan tidak terjadi karena mesin roasting sengaja ditinggalkan dalam kondisi menyala.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup