‘Amnesia’ Politik Diantara Euforia Kekuasaan dan Etika Kepemimpinan

KUNINGANSATU.COM,- Suara kritik datang dari kalangan internal yang pernah berada di barisan perjuangan politik Kabupaten Kuningan. Dadan Satyavadin, salah satu tokoh yang dikenal sebagai bagian dari tim sukses Dirahmati, pada Minggu (5/10/2025), menyoroti gejala hilangnya etika kepemimpinan di tengah euforia kekuasaan yang baru saja diraih.
Dalam pernyataannya, Dadan menyebut bahwa kemenangan politik sejatinya adalah hasil kerja kolektif, bukan pencapaian individu. Namun, ia menilai semangat kebersamaan itu kini mulai pudar setelah kekuasaan digenggam.
“Kami melihat pola yang berulang. Setelah menang, sebagian pemimpin lebih sibuk merayakan dirinya sendiri ketimbang menghargai mereka yang turut berjuang di balik layar,” ujar Dadan dengan nada kritis.
Ia mencontohkan suasana Karnaval Budaya Kabupaten Kuningan yang digelar baru-baru ini. Menurutnya, acara yang semestinya menjadi refleksi bersama justru terasa eksklusif.
“Banyak relawan, simpatisan, dan tim yang dulu berada di garis depan tak tampak dilibatkan, apalagi diundang. Seolah-olah jasa mereka sudah selesai dihitung ketika hasil diumumkan,” ungkapnya.
Mengutip pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche, Dadan menilai bahwa sikap tidak tahu berterima kasih (ingratitude) adalah bentuk kelemahan karakter manusia.
“Dalam konteks kekuasaan, ingratitude bukan sekadar lupa, tetapi juga penolakan terhadap sejarah yang tidak menyenangkan ego penguasa,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kekuasaan sering dijadikan alat untuk menulis ulang narasi, menghapus siapa yang berjasa, dan menampilkan diri seolah-olah keberhasilan adalah hasil tunggal kemampuan pribadi.”
Sebagai pembanding, Dadan menyebut gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang dinilai mampu menjaga relasi dengan para pendukungnya.
“Selama dua periode, Jokowi tidak melupakan tim di baliknya. Ada yang diberi peran strategis, ada yang tetap dihargai secara simbolik. Itu bentuk penghargaan moral terhadap kontribusi nyata,” katanya.
Menurut Dadan, hal inilah yang mencerminkan ajaran Plato dalam The Republic bahwa pemimpin sejati memimpin bukan demi kuasa, melainkan demi kebaikan.
“Dan kebaikan itu mustahil dicapai bila seorang pemimpin berusaha menghapus jejak perjuangan orang lain,” tegasnya.
Ia menilai fenomena yang terjadi di Kuningan sebagai tanda amnesia politik dini.
“Baru seumur jagung menjabat, tapi sudah tampak gejala pelupa historis. Ini bukan sekadar soal undangan acara, tapi hilangnya etika kepemimpinan. Loyalitas dibalas dengan pengabaian, pengorbanan dibayar dengan diam,” ujar Dadan lagi.
Menutup pernyataannya, Dadan menegaskan bahwa tim sukses dan relawan tidak menuntut balas budi dalam bentuk jabatan, melainkan pengakuan moral.
“Ketika seorang pemimpin kehilangan kemampuan untuk mengakui kontribusi orang lain, dia sesungguhnya kehilangan hak moral untuk disebut pemimpin,” pungkasnya.
“Di tengah euforia panggung megah itu, yang paling tidak tampak justru kebesaran jiwa. Jiwa kecil akan selalu butuh panggung besar agar tampak tinggi di mata orang lain,” tutup Dadan menukil kalimat filsuf yang ia kagumi.***


















