Dadan Satyavadin Serukan Revolusi Kolaborasi: Desa, Kampus, dan Pasar Digital Bersatu Bangun Ekonomi Akar Rumput

KUNINGANSATU.COM,- Pemerhati kebijakan publik, Dadan Satyavadin, mendorong lahirnya ekosistem kolaboratif antara desa, perguruan tinggi, dan pasar digital sebagai langkah strategis menuju kemandirian ekonomi akar rumput. Hal itu ia sampaikan dalam gagasan bertajuk “Revolusi Desa & Ekonomi Tanah Air Sendiri (Bagian 3) yaitu Ekosistem Kolaborasi Desa, Kampus, dan Pasar Digital”, Kamis (13/11/2025).

Menurut Dadan, desa di Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan koneksi dan sinergi. Ia menilai banyak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang memiliki produk berkualitas, namun kesulitan menembus pasar karena tidak memiliki akses jejaring.

“BUMDes kita banyak yang sudah punya produk bagus, tapi gagal masuk ke pasar besar, bukan karena tidak kompetitif, melainkan karena tidak terkoneksi dengan ekosistem yang lebih luas,” ujarnya.

Sebaliknya, lanjut Dadan, perguruan tinggi di daerah memiliki banyak riset dan teknologi tepat guna yang belum tersambung dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Kampus punya inovasi dan riset yang luar biasa, tapi sering berhenti di jurnal, tidak sampai menjadi solusi bagi desa. Padahal desa adalah ruang praktik sosial-ekonomi yang nyata,” katanya.

Ia menjelaskan, kolaborasi antara desa dan kampus bisa menjadi kemitraan yang saling menghidupkan. Kampus memiliki pengetahuan dan inovasi teknologi, sementara desa memiliki potensi alam, sumber daya manusia, dan ruang uji implementasi.

“Bayangkan kalau setiap kampus di Kuningan, mulai dari Uniku, ITB cabang Kuningan, sampai sekolah tinggi vokasi, punya satu Desa Mitra Inovasi. Mahasiswa tidak hanya menulis skripsi, tapi juga membangun model bisnis untuk BUMDes,” ujar Dadan.

Selain menggandeng kampus, Dadan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara desa dan pasar digital. Ia menyebut marketplace lokal berbasis kabupaten bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan produk desa dengan konsumen modern.

“Kalau setiap kabupaten punya Pasar Digital Desa, maka produk unggulan seperti madu, kopi, sayur organik, atau kriya digital bisa dikurasi dan dijual secara daring. Desa tidak lagi menunggu pembeli, tapi aktif membangun merek dan komunitas konsumennya sendiri,” tuturnya.

Dadan juga menyoroti peran penting pemerintah daerah dalam menciptakan ekosistem tersebut. Menurutnya, pemerintah seharusnya berperan sebagai fasilitator, bukan pelaku tunggal dalam pembangunan.

“Pemerintah daerah harus menjadi orchestrator yang menghubungkan kampus, pelaku usaha, komunitas, dan media lokal. Pembangunan jangan dimaknai sebagai proyek, tetapi sebagai gerakan bersama,” katanya menegaskan.

Ia menilai Kabupaten Kuningan memiliki semua modal untuk memulai revolusi ekonomi berbasis kolaborasi ini, mulai dari kekayaan alam, SDM muda yang kreatif, hingga jaringan kampus yang berkembang pesat.

“Tinggal bagaimana kita menyatukan semua potensi itu dalam satu ekosistem yang konkret dan berkelanjutan,” kata Dadan.

Menutup pandangannya, Dadan mengutip pepatah filsuf Tiongkok kuno, Lao Tzu.

“Sebuah perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah. Langkah pertama itu kini sudah di depan mata: desa-desa yang berani berkolaborasi untuk menyalakan kembali ekonomi tanah airnya sendiri,” ujarnya.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup