Kawin Cai Kuningan Bukan Sekadar Tradisi, Ini Potensinya!
KUNINGANSATU.COM,- Tradisi Kawin Cai di Kabupaten Kuningan didorong menjadi model konservasi sumber mata air berbasis kearifan lokal. Melalui pengembangan Living Lab Tirta Pawitan, pemerintah daerah ingin memadukan nilai-nilai budaya leluhur dengan riset dan teknologi untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan Pengembangan Model Living Lab Tirta Pawitan di Aula Balai Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Tuti, Kawin Cai tidak seharusnya dipandang sebatas tradisi tahunan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Lebih dari itu, tradisi tersebut menyimpan nilai penting tentang hubungan manusia dengan alam, khususnya dalam menjaga sumber mata air sebagai penopang kehidupan masyarakat.
“Tradisi Kawin Cai harus terus kita rawat dan lestarikan. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga alam, merawat lingkungan, serta melindungi sumber mata air,” ujarnya.
Ia menilai, pengembangan Living Lab Tirta Pawitan menjadi peluang untuk membawa nilai-nilai tersebut ke dalam langkah konservasi yang lebih terukur. Dengan dukungan penelitian dan penerapan teknologi, upaya menjaga mata air diharapkan tidak hanya bertumpu pada kebiasaan turun-temurun, tetapi juga diperkuat melalui pendekatan ilmiah.
Program bertajuk Living Lab Sumber Mata Air dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air di Kabupaten Kuningan ini melibatkan Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Kuningan (Uniku), serta Yayasan Kibar Budaya Nusantara.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat yang selama ini menjaga dan merawat sumber mata air. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat pun memiliki peran penting dalam memastikan keberlanjutan program.
Tuti berharap, hasil penelitian yang dikembangkan melalui Living Lab Tirta Pawitan tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Sebaliknya, berbagai temuan dan rekomendasi riset perlu diterapkan secara langsung agar memberikan dampak nyata terhadap ketersediaan air bersih dan kelestarian lingkungan.
“Menjaga dan merawat alam adalah tanggung jawab kita bersama. Perhatian dari sisi akademik dan riset ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan lingkungan,” katanya.
Selain pengembangan model Living Lab Tirta Pawitan, kegiatan tersebut juga diisi dengan forum diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), yang dilanjutkan dengan pelatihan menjaga dan merawat sumber mata air.
Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman para pemangku kepentingan mengenai pentingnya konservasi air. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pihak yang berperan langsung dalam menjaga keberlangsungan sumber mata air.
Tuti turut mengapresiasi masyarakat, para sesepuh, pemerintah desa, dan penjaga mata air yang selama ini konsisten mempertahankan tradisi Kawin Cai. Menurutnya, keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam mengembangkan konservasi yang berakar pada budaya setempat.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Ade Kadarisman dari Staf Kepresidenan, Kepala Bappeda, Kepala DPMD, perwakilan Dinas PUTR, Dinas Lingkungan Hidup, Disdikbud, Sekban Kesbangpol, Camat Jalaksana, serta para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana.
Melalui Living Lab Tirta Pawitan, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap Kawin Cai dapat berkembang menjadi gerakan konservasi yang memberikan manfaat berkelanjutan. Dengan memadukan tradisi, penelitian, dan keterlibatan masyarakat, pelestarian sumber mata air diharapkan mampu memperkuat ketahanan air sekaligus menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang.
Tinggalkan Balasan
1 Komentar
-
I appreciate how much thought went into this piece. It feels carefully put together, and the main ideas come across clearly.















