“Bertumbuh Lewat Organisasi” Karya Alan Suwgiri, Angkat Perjalanan Anak Muda Tanpa Privilege
KUNINGANSATU.COM – Tidak semua anak muda memiliki titik awal kehidupan yang sama. Sebagian lahir dengan akses pendidikan, jaringan sosial, dukungan ekonomi, dan berbagai kemudahan. Sementara sebagian lainnya harus membangun masa depan dari keterbatasan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Alan Suwgiri, S.Pd., M.Pd., melalui bukunya Bertumbuh Lewat Organisasi: Catatan untuk Anak Muda Tanpa Privilege yang diterbitkan Nusa Litera Inspirasi.
Alan mengatakan, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan bagi anak muda untuk berhenti berkembang. Menurutnya, mereka yang tidak memiliki privilege tetap dapat membangun kapasitas, jaringan, reputasi, dan kepercayaan diri melalui proses yang panjang.
“Tidak semua orang lahir dengan privilege yang sama. Ada yang memiliki akses, jaringan dan dukungan sejak awal. Tetapi ketika kita tidak memiliki itu semua, bukan berarti perjalanan harus berhenti. Kita bisa membangun kapasitas dan jaringan melalui proses,” kata Alan sembari memaparkan isi buku karyanya tersebut, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, organisasi merupakan salah satu ruang yang dapat digunakan anak muda untuk membentuk diri. Organisasi tidak hanya berkaitan dengan jabatan atau aktivitas berkumpul, tetapi juga menjadi tempat seseorang mendapatkan pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai persoalan.
Melalui organisasi, kata Alan, seseorang dapat belajar bekerja bersama orang lain, menghadapi perbedaan, menyelesaikan konflik, menerima kritik, berbicara di depan publik, mengelola keuangan, menjalankan aturan, hingga mempertanggungjawabkan keputusan.
“Organisasi itu seperti sekolah kehidupan. Kita belajar dari pengalaman nyata. Ada kesalahan, ada konflik, ada kritik, ada keputusan yang ternyata tidak tepat. Semua itu menjadi bagian dari proses pembentukan diri,” ujarnya.
Alan juga menilai organisasi dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk membangun modal sosial. Bagi mereka yang tidak memiliki jaringan keluarga atau modal ekonomi yang besar, relasi yang dibangun melalui organisasi dapat menjadi bagian dari proses membangun masa depan.
“Kalau kita tidak memiliki jaringan, kita bisa membangun jaringan. Kalau tidak memiliki modal ekonomi yang besar, kita bisa membangun reputasi dan kapasitas. Organisasi memberikan ruang untuk itu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengalaman organisasi mempertemukan anak muda dari berbagai latar belakang. Mereka belajar bekerja sama sebelum kemudian menjalani profesi dan kehidupan masing-masing.
Menurut Alan, relasi yang dibangun sejak masa mahasiswa atau ketika aktif dalam organisasi dapat berkembang menjadi jaringan sosial yang bertahan dalam perjalanan kehidupan.
“Organisasi bukan pengganti pendidikan formal, tetapi bisa menjadi ruang pendidikan sosial. Di sana kita belajar sesuatu yang tidak selalu bisa kita dapatkan di ruang kelas,” katanya.
Alan juga menyoroti perjalanan anak muda ketika harus beralih dari dunia aktivisme menuju kehidupan profesional dan masyarakat. Menurutnya, idealisme yang dibangun dalam organisasi akan berhadapan dengan realitas yang lebih kompleks.
Dalam kehidupan nyata, kata dia, tidak semua persoalan dapat dilihat secara hitam dan putih. Seseorang harus mampu membedakan antara kompromi strategis dan pengorbanan terhadap prinsip.
“Dalam kehidupan nyata, tidak semua persoalan bisa dilihat hitam putih. Kita harus belajar membedakan antara kompromi strategis dengan mengorbankan prinsip,” ujarnya.
Karena itu, Alan menilai nilai-nilai yang diperoleh selama berorganisasi harus dibawa ke kehidupan sehari-hari. Kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemampuan berdialog, dan sikap menghargai perbedaan harus tetap diterapkan meskipun seseorang sudah tidak lagi berada dalam struktur organisasi.
“Bagi saya, aktivisme tidak selesai ketika kita berhenti menjadi pengurus organisasi. Aktivisme bisa berubah bentuk menjadi cara kita menjalani kehidupan,” tuturnya.
Melalui bukunya, Alan juga mengingatkan anak muda agar tidak terjebak pada pandangan tentang kesuksesan instan. Menurutnya, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya menunjukkan hasil akhir, sementara proses panjang di balik pencapaian seseorang tidak selalu terlihat.
“Bertumbuh membutuhkan waktu. Reputasi membutuhkan waktu. Kepercayaan membutuhkan waktu. Kepemimpinan juga membutuhkan proses,” katanya.
Alan menegaskan, organisasi tidak dapat menjamin seseorang menjadi sukses. Namun, pengalaman yang diperoleh selama berorganisasi dapat menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Baginya, keberhasilan berorganisasi juga tidak semata-mata diukur dari banyaknya jabatan yang pernah dimiliki. Hal yang lebih penting adalah kapasitas dan karakter yang terbentuk selama menjalani proses tersebut.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar menjadi orang hebat. Yang lebih penting adalah menjadi manusia yang berguna,” tegasnya.
Alan berharap gagasan tersebut dapat menjadi refleksi bagi anak muda, khususnya mereka yang merasa tidak memiliki privilege. Keterbatasan, menurutnya, bukan sesuatu yang harus disangkal, tetapi kondisi yang dapat dihadapi dengan membangun kapasitas, reputasi, pengalaman, dan jaringan.
“Jabatan bisa hilang. Posisi bisa berganti. Tetapi karakter dan pengalaman yang kita bangun akan tetap menjadi bagian dari diri kita,” pungkas Alan.***















