Sat Set! Usai Luapan Air Viral di Cisantana, Pelaku Wisata Langsung Dikumpulkan

KUNINGANSATU.COM,- Pemerintah Kecamatan Cigugur bersama Pemerintah Desa Cisantana menggelar rapat koordinasi di bale desa Cisantana Rabu(20/5/26) mengenai penanganan drainase dan normalisasi saluran air . Pertemuan tersebut digelar sebagai tindak lanjut atas kejadian Luapan air yang sempat viral di kawasan Palutungan serta arahan Bupati Kuningan agar dilakukan langkah cepat dan terkoordinasi.

Rapat yang berlangsung dengan melibatkan sekitar 15 peserta itu dihadiri para pelaku wisata di jalur Ipukan, unsur BPD, RT/RW, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR). Beberapa pelaku usaha wisata yang hadir di antaranya Arunika, Ipukan Highland, Orchid Palutungan, PPGC Palutungan, Buper Ipukan, hingga pengelola pendakian.

Camat Cigugur, Yono Rahmansah, mengatakan pertemuan tersebut difokuskan untuk mencari solusi atas persoalan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu, terutama terkait fungsi saluran air yang dinilai belum optimal.

“Hari ini kami melaksanakan rapat koordinasi bersama seluruh pihak terkait sebagai tindak lanjut arahan Bupati Kuningan. Alhamdulillah muncul kesepakatan untuk melakukan gerakan bersama berupa normalisasi saluran air di kawasan Ipukan,” kata Yono.

Menurutnya, hasil pembahasan menunjukkan salah satu persoalan utama berada pada aliran air yang tidak masuk secara maksimal ke saluran drainase saat hujan deras turun. Akibatnya, air meluap ke badan jalan dan memicu genangan hingga banjir.

Sementara itu, Kepala Desa Cisantana, Ano Suratno, menjelaskan bahwa terdapat dua titik yang menjadi perhatian khusus, yakni jalur Lamping Kidang–Ipukan dan jalur menuju masjid. Berdasarkan pemetaan awal, ditemukan beberapa saluran drainase yang tidak lagi berfungsi optimal.

“Harapannya kalau aliran air lancar, air masuk ke drainase lalu mengalir ke drainase jalan kabupaten, bukan lagi meluap ke badan jalan,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, pemerintah desa bersama warga dan pelaku usaha akan melakukan kerja bakti normalisasi saluran secara manual mulai besok. Penanganan dilakukan bertahap mengingat kebutuhan anggaran yang cukup besar.

Selain normalisasi drainase, upaya lain yang disiapkan adalah penambahan biopori dan sumur resapan di lingkungan masyarakat guna meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan.

Yono mengakui terdapat indikasi berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air di kawasan tersebut, meski sejauh ini belum ada kajian teknis yang mengukur secara spesifik tingkat penurunannya.

“Kami tidak memungkiri ada indikasi penurunan daya serap air. Karena itu daerah resapan akan ditambah melalui biopori dan sumur resapan,” katanya.

Ia juga membuka peluang adanya kajian akademis lebih lanjut terkait kondisi resapan di kawasan lereng Gunung Ciremai, agar langkah penanganan yang diambil dapat dilakukan secara lebih tepat.

“Mudah-mudahan ada akademisi atau pihak yang memang ahli dalam manajemen lingkungan dan resapan air. Kami sangat menantikan masukan untuk kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai,” pungkasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup