Situ Padabeunghar Diteror ‘Setan Merah’, Ikan Lokal Terancam

KUNINGANSATU.COM – Situ Padabeunghar di kawasan Kebun Raya Kuningan, Kecamatan Pasawahan, tak hanya menghadapi persoalan debit air yang terus menyusut. Di balik permukaan situ yang mulai mengering, muncul ancaman lain yang perlahan menggerogoti ekosistem perairan.

Ikan predator red devil atau yang dikenal sebagai ikan setan merah mulai ditemukan di Situ Padabeunghar. Kehadiran ikan invasif tersebut disebut mengganggu keseimbangan ekosistem yang sebelumnya menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar.

Kepala UPTD Kebun Raya Kuningan, Dedi, mengatakan keberadaan ikan red devil baru diketahui sekitar setahun terakhir. Ia mengaku belum mengetahui dari mana ikan predator tersebut masuk ke Situ Padabeunghar.

“Nggak tahu kenapa setahun terakhir ini ada ikan invasif predator kayak Red Devil. Nggak tahu saya dari mana datangnya. Satu lagi itu saya lupa namanya. Nah, itu yang mengganggu ekosistem aslinya,” ujar Dedi, Selasa (15/9/2026).

Menurut Dedi, persoalan tersebut cukup mengkhawatirkan karena Situ Padabeunghar merupakan situ alami yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem berbagai jenis ikan air tawar. Kehadiran ikan predator berpotensi mengganggu keberadaan ikan lokal yang sebelumnya hidup dan berkembang di kawasan tersebut.

“Padahal itu situ alami yang jadi ekosistem banyak ikan tawar kayak nila, mas. Jadi sangat disayangkan,” katanya.

Ancaman red devil tersebut datang ketika kondisi Situ Padabeunghar sendiri tengah menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, kerusakan terjadi pada sejumlah saluran irigasi dan konstruksi penahan air di sekitar situ.

Saat musim kemarau, debit air pun menyusut hingga sebagian tepian situ mulai mengering. Kerusakan saluran membuat air dari situ atas tidak maksimal mengalir menuju bagian bawah dan berdampak terhadap pasokan air untuk lahan pertanian warga.

“Jalur situ yang di bawah itu kan dia nampung yang dari situ atas. Nah, di jalur irigasinya dari situ atas ke situ bawah itu kan juga udah rusak banyak bocor di jalan gitu. Akibatnya ya saluran irigasi ke sawah warga sudah nggak bisa lagi kalau kemarau,” jelas Dedi.

Kerusakan juga terjadi pada bagian tepi situ. Beberapa titik disebut mengalami longsor sehingga konstruksi penahan air menjadi rapuh. Kondisi itu bahkan membuat pengelola melarang aktivitas memancing di kawasan tersebut karena dinilai berisiko bagi keselamatan.

Bagi pengelola Kebun Raya Kuningan, persoalan Situ Padabeunghar tidak sekadar menyangkut air yang menyusut. Ada fungsi ekologis yang ikut dipertaruhkan ketika habitat perairan terganggu dan spesies invasif mulai berkembang.

Namun, penanganan situ tidak sepenuhnya berada di bawah kewenangan Pemerintah Kabupaten Kuningan. Dedi menyebut kewenangan pengelolaan situ berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.

Pihak Kebun Raya Kuningan pun berharap ada langkah penanganan, baik untuk memperbaiki konstruksi maupun memulihkan ekosistem Situ Padabeunghar, termasuk menghadapi keberadaan ikan invasif.

“Nah, itu yang kemudian kita coba cari solusi ke BBWS. Mungkin kalau BBWS sendiri mungkin sudah dalam perencanaan atau memang porsi anggarannya yang belum ter-cover, saya nggak tahu. Cuman yang jelas itu ranahnya ada di mereka, bukan di pemerintah daerah,” pungkas Dedi.***

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup