Dari 28 Jadi 30, Jumlah Siswa Diduga Keracunan di Ciwaru Bertambah
KUNINGANSATU.COM,- Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan mengambil langkah penanganan terhadap dugaan keracunan yang dialami puluhan siswa di Kecamatan Ciwaru, Senin (14/9/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. H. Edi Martono, MARS, mengatakan terdapat sekitar 30 orang yang mengalami keluhan. Dari jumlah tersebut, 29 orang merupakan siswa SMP dan satu lainnya merupakan siswa SD.
Menurut Edi, langkah awal yang dilakukan adalah menghentikan sementara pengelolaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
“Jadi untuk sementara, sistem pengelolaan MBG ini ditutup dulu, dialihkan ke yang lain,” kata Edi saat ditemui di Puskesmas Ciwaru, Senin (14/9/2026).
Penghentian sementara tersebut dilakukan sembari menunggu pemeriksaan terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah keluhan yang dialami siswa benar-benar berkaitan dengan makanan dari program MBG.
Edi menjelaskan, proses pemeriksaan sampel makanan membutuhkan waktu. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pemeriksaan dapat berlangsung hingga sekitar 14 hari.
“Kalau 14 hari itu tidak ditemukan apa-apa pada sampel makanan MBG, artinya mungkin bukan dari sampel makanan MBG-nya. Masih berjalan,” ujarnya.
Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kandungan atau faktor penyebab gangguan kesehatan pada sampel makanan, maka pengelolaan MBG dari SPPG terkait akan menjadi bahan evaluasi.
“Nah, kalau memang ditemukan itu dari sampel makanannya, SPPG-nya ini mesti dievaluasi ulang,” tegasnya.
Meski demikian, Edi menekankan bahwa program MBG tetap harus berjalan dengan pengawasan pemerintah. Evaluasi dilakukan untuk memastikan aspek keamanan dan kesehatan dalam penyediaan makanan bagi para siswa tetap terjaga.
Selain persoalan makanan, Edi juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi kesehatan, terutama di tengah perubahan cuaca yang tidak menentu.
Menurutnya, daya tahan tubuh dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Cuaca yang sering hujan dan suhu yang cenderung dingin juga perlu diantisipasi dengan menjaga pola hidup.
“Utamanya adalah jaga makan, jaga pola istirahat,” katanya.
Ia menambahkan, menjaga pola makan dan istirahat merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kondisi tubuh. Sebab, ketika kondisi tubuh sedang menurun dan tidak diimbangi dengan pola hidup yang baik, seseorang akan lebih mudah terserang penyakit.
Sementara itu, pemeriksaan terhadap para siswa yang mengalami keluhan serta sampel makanan terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya, termasuk terhadap pengelolaan MBG dari SPPG terkait.















