Perang Belum Usai, BNNK Kuningan Ungkap Ancaman Baru yang Incar Remaja
KUNINGANSATU.COM,- Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kuningan mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman penyalahgunaan narkotika, terutama setelah mulai terdeteksinya peredaran narkotika sintetis (sinte) yang menyasar kalangan pelajar di Kabupaten Kuningan.
Pesan tersebut disampaikan Kepala BNNK Kuningan, Agus Mulya, usai mengikuti puncak Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2026 secara daring di Ruang Rapat Sang Adipati, Gedung Setda Kabupaten Kuningan, Kamis (23/7/2026). Kegiatan itu dihadiri Bupati Kuningan, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, pemangku kepentingan lainnya.
Agus menjelaskan, HANI diperingati setiap 26 Juni sebagai momentum internasional untuk meningkatkan kepedulian terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang terus meningkat di berbagai negara.
“Hari Anti Narkotika Internasional merupakan bentuk keprihatinan dunia terhadap meningkatnya jumlah penyalahguna dan korban narkotika. Ini menjadi pengingat bahwa perang melawan narkoba harus terus dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi di Kabupaten Kuningan juga memerlukan kewaspadaan tinggi. Meski berbagai upaya pencegahan terus dilakukan, ancaman peredaran narkotika masih nyata sehingga dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
Ia mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan yang selama ini dinilai konsisten mendukung program pencegahan penyalahgunaan narkotika.
“Tidak ada kata berhenti dan tidak ada kata istirahat untuk memerangi bahaya penyalahgunaan narkotika. Ini harus menjadi gerakan bersama,” tegasnya.
Agus mengaku prihatin dengan mulai munculnya kasus peredaran narkotika jenis sintetis atau sinte yang melibatkan pelajar. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelaku peredaran narkoba terus mencari celah dengan menghadirkan jenis-jenis narkotika baru atau New Psychoactive Substances (NPS).
“Di Kabupaten Kuningan sinte sudah mulai masuk. Yang lebih memprihatinkan, korbannya diindikasikan berasal dari kalangan remaja dan pelajar. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, BNN meluncurkan program ANANDA BERSINAR (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak). Program tersebut difokuskan untuk memperkuat ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan edukasi di lingkungan sekolah agar generasi muda memiliki pemahaman dan daya tahan terhadap bahaya narkoba.
“Keluarga menjadi benteng pertama. Ketahanan keluarga harus dibangun agar anak-anak memiliki imunitas terhadap bahaya narkotika. Di sekolah juga harus terus diberikan edukasi dan pemahaman tentang bahaya narkoba,” ujarnya.
Selain edukasi, BNNK Kuningan juga mendorong pelaksanaan deteksi dini melalui tes urine di lingkungan pendidikan. Namun, Agus mengakui pelaksanaan tes urine secara massal masih menghadapi kendala anggaran, terutama untuk pengadaan alat uji.
“Kami tentu menginginkan ada tes urine di sekolah sebagai bentuk shock therapy dan upaya deteksi dini. Tetapi pelaksanaannya membutuhkan dukungan anggaran, termasuk untuk penyediaan test kit. Ini perlu dipikirkan dan didukung bersama,” pungkasnya.
















