Susul Aksi Mahasiswa, Komite Aksi Peduli Kuningan Siap Kembali Kepung Mapolres

KUNINGANSATU.COM,- Tragedi yang menelan korban jiwa dalam aksi demonstrasi pada 28 Oktober 2025 mendapat respon keras dari berbagai organisasi masyarakat (Ormas), lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta komunitas ojek online (Ojol) di Kabupaten Kuningan. Mereka menilai peristiwa tersebut telah mencoreng wajah demokrasi Indonesia.Gabungan Ormas, LSM, dan Ojol menggelar rapat terbuka di sekretariat Forum Komunikasi Gabungan Ormas LSM (FK-GOL), Jum’at (29/8/2025).

Dalam forum itu, mereka bersepakat membentuk Komite Aksi Peduli Demokrasi yang akan turun ke jalan untuk mengecam tindakan represif aparat keamanan terhadap massa aksi.Ketua Barisan Rakyat Kuningan (Barak), Nana Rusdiana, S.IP, menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar insiden biasa, melainkan bukti nyata adanya kekerasan negara terhadap masyarakat sipil.

“Aparat yang seharusnya menjaga keamanan kini sudah berubah menjadi alat represif untuk merampas hak rakyat,” ujarnya.

Menurut Nana, demokrasi yang semestinya memberikan ruang kebebasan berpendapat dan menjamin keselamatan warga negara, kini justru berubah menjadi ketakutan. Ia menyebut, rakyat menyaksikan langsung praktik kekerasan yang bahkan menimbulkan korban jiwa.

“Demonstrasi yang dilakukan kawan-kawan di Jakarta bukanlah tindakan tanpa makna, melainkan ekspresi murni keresahan rakyat atas kebijakan yang tidak adil,” katanya.

Nana kemudian mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam melihat kekerasan negara. Ia menegaskan, turun ke jalan menjadi wujud nyata bahwa demokrasi masih hidup meski harus dibayar mahal.

“Kita tidak boleh diam ketika menjadi korban kekerasan negara,” tegasnya.

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup