“Negeri Tanpa Pertanyaan” Jadi Menu Utama MBG di Gedung Kesenian Raksawacana

KUNINGANSATU.COM – Istilah MBG yang belakangan kerap dikaitkan dengan “Makan Bergizi Gratis” mendapat makna berbeda di Kabupaten Kuningan. Melalui Menu Budaya Gembira (MBG), akronim tersebut justru hadir sebagai ruang ekspresi seni kolaboratif yang digelar di Gedung Kesenian Raksawacana.
Selama tiga pekan, gedung kesenian ini menjadi titik temu berbagai disiplin seni. Teater, musik, dan tari dipadukan dalam satu panggung yang utuh. Sorotan utama mengarah pada pertunjukan “Negeri Tanpa Pertanyaan”, yang merupakan tafsir ulang dari puisi Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang karya Taufiq Ismail.
Berbeda dari pendekatan konvensional, puisi tersebut tidak hanya dibacakan, melainkan dihadirkan dalam bentuk pertunjukan multidimensi. Teks sastra diterjemahkan ke dalam gerak, bunyi, dan visual panggung, sehingga menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi penonton.
Humas MBG sekaligus Ketua Komunitas Teater Sado, Edi Supardi, menegaskan bahwa konsep ini memang dirancang sebagai pengalaman baru dalam menikmati karya sastra.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman baru, di mana puisi tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan melalui tubuh, bunyi, dan visual panggung,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Pertunjukan “Negeri Tanpa Pertanyaan” menjadi inti dari keseluruhan rangkaian MBG. Karya tersebut merupakan upaya menafsir ulang puisi legendaris Taufiq Ismail dengan pendekatan kolaboratif lintas seni. Melalui interpretasi ini, teks sastra dihidupkan kembali menjadi pengalaman artistik yang reflektif dan menggugah kesadaran penonton.
Kegiatan ini melibatkan berbagai komunitas seni dan budaya di Kabupaten Kuningan, seperti Teater Sado, Aduide Media, Bukusam, Dapur Sastra Universitas Kuningan, Ethnic Music Ciremai Creative, GHC Dance Community, Kampung Dongeng Kuningan, Komunitas Maca, Rineka Sunda, Teater Istunink SMAGAR, Wihendar Local Musica, hingga Yayasan Hibar Budaya Nusantara. Kolaborasi ini juga didukung oleh ratusan pelaku seni, mulai dari aktor, penari, musisi, narator, hingga tim produksi yang bekerja secara kolektif.
Lebih jauh, kegiatan ini digelar sebagai upaya menggairahkan kembali ekosistem seni dan budaya lokal, sekaligus membuka ruang kreatif bagi para seniman. Selain itu, MBG juga diharapkan dapat memperkuat literasi sastra melalui pendekatan pertunjukan, serta membangun kesadaran publik akan pentingnya seni sebagai medium refleksi sosial.
Seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan mulai tanggal 10 hingga 26 April 2026. Pertunjukan dijadwalkan setiap hari Jumat pukul 14.00 WIB, serta Sabtu dan Minggu pada pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB.
MBG menempatkan seni bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai medium yang menghadirkan pengalaman reflektif melalui bahasa panggung yang hidup dan kontekstual.***


















