Sastra Jadi Nafas Budaya, Penyair Perempuan Indonesia Gelar “Milampah Tapak Kuningan”
KUNINGANSATU.COM – Semangat melestarikan sastra dan budaya lokal terus digaungkan melalui kegiatan “Milampah Tapak Kuningan”, sebuah diskusi sastra dan budaya yang digelar oleh Para Penyair Perempuan Indonesia dalam rangka program Pulang ke Kampung. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Sawah Lope, Sabtu (2/8/2026) malam, menjadi ruang bertemunya para penyair, budayawan, pegiat literasi, dan masyarakat untuk menelusuri kembali jejak sejarah serta kekayaan budaya Kabupaten Kuningan.
Penulis, anggota Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat, sekaligus Guru SMPN 1 Jalaksana, Sri Neneng, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian para penyair perempuan terhadap upaya menjaga identitas budaya daerah melalui sastra.
Menurutnya, program Pulang ke Kampung tidak sekadar menghadirkan para penyair kembali ke daerah asal, tetapi juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi budaya yang melibatkan masyarakat.
“Melalui Milampah Tapak Kuningan, kami ingin mengajak masyarakat kembali mengenali akar budayanya. Pulang kampung bukan hanya kembali ke tempat kelahiran, tetapi juga pulang untuk merawat sejarah, bahasa, sastra, dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur,” ujar Sri Neneng.
Ia menjelaskan, sastra memiliki peran penting sebagai media yang mampu merekam perjalanan sebuah peradaban. Karena itu, berbagai tradisi, cerita rakyat, hingga kearifan lokal perlu terus ditulis, dibaca, dan didiskusikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Diskusi tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Drs. Asep Budi Setiawan, Dewan Pakar Kebudayaan Kabupaten Kuningan, AR Afandi, serta Kang Mulyadi dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. Ketiganya membahas keterkaitan sastra, bahasa, dan budaya sebagai fondasi pembentukan karakter masyarakat.
Sri Neneng mengungkapkan, antusiasme peserta yang datang dari berbagai kalangan menjadi bukti bahwa ruang-ruang literasi masih sangat dibutuhkan. Selama diskusi berlangsung, peserta aktif berdialog, berbagi pengalaman, hingga menyampaikan pandangan mengenai perkembangan sastra dan budaya di Kuningan.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap budaya daerahnya. Tinggal bagaimana kita terus menghadirkan ruang yang mempertemukan berbagai gagasan agar semangat itu tetap hidup,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, serta pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar gerakan literasi dan pelestarian budaya dapat terus berkembang.
Sementara itu, jalannya diskusi dipandu oleh Ratna Ayu Budiarti yang mampu membangun suasana dialog secara hangat dan interaktif. Berbagai pandangan mengenai pentingnya menjaga bahasa, sastra, dan budaya lokal mengalir sepanjang kegiatan.
Sri Neneng berharap Milampah Tapak Kuningan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.
“Kami ingin sastra menjadi jalan untuk mengenali kembali jati diri masyarakat Kuningan. Selama budaya terus dirawat bersama, saya yakin warisan leluhur akan tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen seluruh peserta untuk terus menghidupkan tradisi literasi sekaligus menjaga warisan budaya Kabupaten Kuningan.***















