Tak Sekadar Pentas Budaya, Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu Buka Peluang UMKM
KUNINGANSATU.COM,- Hibar Budaya dalam rangka Milangkala ke-6 Saung Kopi Hawwu mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan. Kegiatan yang memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif itu dinilai mampu membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Kabupaten Kuningan, H Toni Kusumanto, bersama Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disporapar Kuningan, Dading Fajarudin, saat ditemui di sela kegiatan Hibar Budaya Milangkala ke-6 Saung Kopi Hawwu, Rabu (23/9/2026).
Toni mengatakan, penguatan sektor UMKM tidak cukup hanya dengan meningkatkan kualitas produk. Menurutnya, ada sedikitnya empat aspek yang perlu menjadi perhatian, yakni produksi, pemasaran, pengembangan, dan kontinuitas usaha.
Ia menilai produk UMKM yang sudah memiliki kualitas baik harus dibarengi dengan kemampuan pemasaran yang memadai. Karena itu, ruang yang diberikan Saung Kopi Hawwu kepada pelaku UMKM dalam kegiatan Milangkala ke-6 dinilai menjadi bagian penting dalam mempertemukan produk lokal dengan konsumen.
“Pada saat dari sisi produksi sudah bagus oleh para pelaku UMKM, kemudian bagaimana pemasarannya? Nah, pemasaran ini saya sampaikan terima kasih, dari Kopi Hawu ini dalam rangka Milangkala ternyata memberikan ruang kepada para pelaku UMKM untuk memasarkan produk,” ujar Toni.
Menurut Toni, kegiatan berbasis komunitas seperti Hibar Budaya dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk membangun jejaring pemasaran. Kehadiran masyarakat dalam kegiatan juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha mengenalkan produknya kepada calon konsumen dari berbagai kalangan.
Selain pemasaran, Toni menilai momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong pelaku UMKM meningkatkan legalitas formal usaha. Pemerintah daerah, kata dia, berkewajiban memberikan pendampingan agar pelaku usaha dapat memenuhi berbagai kebutuhan legalitas tersebut.
Namun, ia mengingatkan agar peningkatan pemasaran dan permintaan pasar tetap diikuti kesiapan produksi. Jangan sampai produk UMKM semakin dikenal, tetapi pelaku usaha tidak mampu memenuhi permintaan konsumen.
“UMKM ini jangan sampai menjadi happy problem. Saya katakan happy problem karena perlu kontinuitasnya. Pada saat banyak pesanan tapi mereka tidak mampu untuk memproduksi, akan jadi masalah juga,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disporapar Kabupaten Kuningan, Dading Fajarudin, menyambut positif kegiatan yang dinilainya mampu mempertemukan sektor seni dan budaya dengan ekonomi kreatif.
“Kami dari bidang ekonomi kreatif Disporapar Kabupaten Kuningan merasa berbangga hati karena pelestarian budaya juga ada di sini, termasuk produk-produk ekraf juga di sini,” ujar Dading.
Menurut Dading, rangkaian Hibar Budaya yang diisi pertunjukan seni dan budaya, workshop membatik hingga kopi, memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun jejaring.
Ia menyebut sektor kuliner juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan ekonomi kreatif. Dengan demikian, kegiatan tersebut dinilai dapat memberikan dampak terhadap pelaku seni, budaya, UMKM, dan ekonomi kreatif di Kabupaten Kuningan.
“Ini sebuah ikon yang perlu terus dilestarikan dan ini bisa mengangkat seluruh yang ada di Kabupaten Kuningan, khususnya para pelaku seni dan budaya,” katanya.
Dading menegaskan, pemerintah daerah perlu hadir dalam mendukung kegiatan yang tumbuh dari inisiatif komunitas dan masyarakat. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara pemerintah, komunitas, pelaku seni budaya, dan ekonomi kreatif.
“Ini agenda yang memang kita harus support. Ini bentuk sinergitas antara para pelaku seni budaya termasuk komunitas. Pemerintah juga harus hadir di sini,” ujarnya.
Ia berharap Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu dapat terus dipertahankan dan dikembangkan menjadi agenda tahunan. Terlebih, kegiatan tersebut disebut telah masuk dalam calendar of event Jawa Barat.
“Ke depan kegiatan ini harus tetap dilestarikan dan mungkin menjadi agenda tahunan. Milangkala yang selanjutnya juga bisa lebih ditingkatkan kembali,” katanya.
Hibar Budaya Milangkala ke-6 Saung Kopi Hawwu pun diharapkan tidak berhenti sebagai ruang pertunjukan dan pelestarian tradisi. Dengan keterlibatan pemerintah, komunitas, pelaku seni, serta UMKM, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang pertemuan antara budaya, kreativitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat Kuningan.















