Menuju Mei Melawan: Satukan Barisan May Day, Hari Buruh Adalah Milik Semua yang Menukar Keringat dengan Upah!

KUNINGANSATU.COM,- Menjelang satu Mei, narasi publik biasanya mulai disesaki oleh persiapan pengamanan demonstrasi besar-besaran. Sayangnya, stigma lama masih melekat kuat. Hari Buruh atau May Day dianggap sebagai “pestanya” para pekerja pabrik semata. Padahal, di tengah pergeseran lanskap ekonomi saat ini, memenjarakan definisi buruh hanya pada sektor manufaktur adalah sebuah kenaifan atau mungkin, sebuah skenario besar untuk melemahkan posisi tawar kelas pekerja.

Kita harus berani jujur pada realitas ekonomi hari ini. Definisi buruh telah meluas melampaui pagar-pagar kawasan industri. Selama seseorang menukarkan waktu, tenaga, dan pikirannya demi upah untuk memperkaya pihak lain, ia adalah bagian dari kelas pekerja. Tidak peduli apakah ia memegang kunci inggris di lini produksi, atau memegang spidol di depan kelas sebagai tenaga pendidik.

Masalah terbesar gerakan pekerja di Indonesia saat ini adalah “sekat kasta” yang diciptakan oleh status sosial. Banyak tenaga pendidik, dosen, hingga pekerja sektor jasa dan kreatif yang merasa “alergi” disebut buruh. Gelar akademis dan ruang kerja ber-AC dianggap sebagai pemisah derajat dengan mereka yang bekerja mengandalkan kekuatan fisik.

Padahal, ijazah tinggi tidak membuat seseorang kebal dari eksploitasi. Guru honorer yang upahnya jauh di bawah standar kelayakan, atau pekerja kreatif yang jam kerjanya dieksploitasi tanpa jaminan kesehatan, pada dasarnya memiliki nasib yang sama dengan kuli pabrik yang terancam PHK sepihak. Mereka semua adalah subjek dari sistem yang menempatkan efisiensi di atas kemanusiaan. Gengsi inilah yang selama ini memecah belah solidaritas, membuat kita merasa berjuang sendirian di sektor masing-masing.

“Menuju Mei Melawan” bukan sekadar slogan agitasi. Ini adalah seruan untuk melakukan redefinisi total terhadap gerakan kelas pekerja. Kita harus sadar bahwa pelemahan hak-hak buruh di satu sektor adalah lonceng kematian bagi hak-hak pekerja di sektor lainnya. Jika buruh pabrik bisa dengan mudah diganti tanpa pesangon yang layak, jangan harap nasib tenaga pendidik atau pekerja profesional lainnya akan lebih baik di masa depan.

May Day harus menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh elemen pekerja. Buruh fisik harus bersolidaritas dengan buruh pikiran (intelektual). Ketika guru, dosen, perawat, kurir, hingga operator mesin bersatu dalam satu barisan, maka posisi tawar kelas pekerja terhadap kebijakan publik yang tidak adil akan menjadi jauh lebih kuat.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton di Hari Buruh. Melepaskan ego sektoral dan meruntuhkan tembok kasta pekerja adalah syarat mutlak untuk sebuah perubahan. Hari Buruh adalah milik siapa saja yang keringat dan pikirannya diperas demi upah.

Mei yang akan datang ini, mari kita tunjukkan bahwa barisan ini telah bersatu. Tidak ada lagi dikotomi antara yang berjas dan yang berwearpack. Selama kita masih bergantung pada upah untuk menyambung hidup, kita adalah satu nasib, satu barisan, dan satu perlawanan.

Selamat menyambut May Day. Mari kita rebut kembali makna Hari Buruh!

Oleh: Muhamad Sayffulloh Rohman

Deskripsi Iklan Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup