Kuningan Butuh Banyak Hutan, Bukan Hutang!

KUNINGANSATU.COM,- Kuningan tidak kekurangan janji pembangunan, tetapi mulai kehabisan penyangga kehidupan. Di kaki Gunung Ciremai, hutan yang seharusnya menjadi benteng ekologis perlahan menyempit, sementara daftar proyek dan skema pembiayaan justru terus melebar. Ketika alam dikorbankan atas nama pembangunan, yang tersisa bukan kesejahteraan, melainkan beban ekologis sekaligus fiskal.
Hutan bagi Kuningan bukan sekadar hamparan hijau atau komoditas ruang. Ia adalah sistem hidup yang mengatur air, menjaga tanah, dan menentukan keberlanjutan ekonomi rakyat. Saat hutan menyusut, krisis air menjadi kenyataan, risiko bencana meningkat, dan biaya sosial melonjak. Pada titik ini, hutang pembangunan kehilangan maknanya karena dibayar dengan kerusakan yang tidak bisa ditebus oleh anggaran apa pun.
Arah kebijakan sering kali terjebak pada logika jangka pendek. Infrastruktur dikejar tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan. Pinjaman dianggap solusi cepat, sementara kalkulasi ekologis disisihkan. Padahal hutang tidak hanya tercatat dalam laporan keuangan daerah, tetapi juga diwariskan dalam bentuk mata air yang mati, tanah yang rapuh, dan ruang hidup yang kian sempit.
Kuningan sesungguhnya memiliki modal yang jauh lebih berharga dibanding pinjaman, yaitu hutan dan bentang alam Ciremai. Dengan pengelolaan yang berpihak pada ekologi, hutan dapat menjadi fondasi ekonomi berkelanjutan melalui konservasi, pertanian lestari, pariwisata alam, serta kedaulatan air. Ini bukan sekadar wacana lingkungan, melainkan pilihan rasional untuk pembangunan jangka panjang.
Tulisan ini bukan penolakan terhadap pembangunan, melainkan peringatan atas arah yang sedang ditempuh. Kuningan tidak membutuhkan tambahan hutang untuk menutupi kegagalan tata kelola ruang. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik untuk melindungi hutan, menata ulang kebijakan, dan menempatkan lingkungan sebagai pusat perencanaan daerah.
Pada akhirnya, hutang bisa dinegosiasikan dan dilunasi. Namun hutan yang rusak tidak pernah benar-benar kembali. Daerah yang kehilangan hutannya sedang menanam defisit masa depan, dan Kuningan tidak boleh berjalan ke arah itu.
Oleh: Aliansi Masyarakat Kuningan (ALAMKU)


















