BEM UNISA : Kuningan Darurat Limbah, TPSA Ciniru Jadi Monumen Kegagalan PEMKAB!

KUNINGANSATU.COM,- Kabupaten Kuningan hari ini sedang tidak baik-baik saja. Di balik jargon pembangunan dan citra wisata yang terus dipoles, tersimpan borok yang kian membusuk di jantung Kecamatan Jalaksana. TPSA Ciniru bukan lagi sekadar tempat pembuangan, melainkan telah menjelma menjadi monumen nyata kegagalan tata kelola lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan yang sengaja dibiarkan berlarut larut.
Sudah bertahun tahun masalah ini dibiarkan menggunung, persis seperti tumpukan sampah setinggi belasan meter yang kini mengancam keselamatan serta kesehatan warga. Status “overload” yang terus didengungkan bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm bahaya yang selama ini sengaja ditulikan oleh para pemangku kebijakan. Kita harus bertanya, apakah pemerintah daerah sedang menunggu terjadinya tragedi longsor sampah yang memakan korban jiwa sebelum benar benar terbangun dari tidur nyenyaknya?
Pemerintah daerah terus-menerus menjual janji manis tentang teknologi RDF sebagai juru selamat. Namun, hingga detik ini rakyat hanya disuguhi pemandangan sampah yang ditumpuk berundak dan ditutup tanah merah, sebuah solusi purba yang hanya menunda bencana, bukan menyelesaikannya. Cara-cara primitif ini adalah bentuk penghinaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan modern di tengah ambisi Kuningan menjadi kabupaten maju.
BEM UNISA melihat adanya krisis keberpihakan yang sangat nyata. Anggaran daerah seolah sangat lincah mengalir untuk proyek-proyek seremonial dan infrastruktur pencitraan, namun mendadak lumpuh ketika bicara soal pembenahan sarana prasarana dasar pengelolaan limbah. Di mana para tenaga ahli yang dijanjikan? Di mana keberpihakan anggaran untuk solusi permanen di hilir? TPSA Ciniru kini menjadi bukti betapa murahnya harga kesehatan masyarakat di mata penguasa yang lebih memilih sibuk dengan rapat koordinasi tanpa eksekusi.
Kami BEM UNISA, tidak akan tinggal diam melihat tanah kelahiran kami perlahan dikepung aroma busuk inkompetensi. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret yang nyata di lapangan, bukan sekadar peninjauan seremonial atau janji tahun depan, maka jangan salahkan jika kemuakan ini meledak. Jangan biarkan tumpukan sampah di Ciniru berpindah menjadi aksi nyata di depan gerbang kekuasaan. Hentikan retorika, eksekusi solusi, atau bersiaplah menghadapi pengadilan rakyat yang muak dengan janji-janji sampah!
Oleh: Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Al Ihya (BEM UNISA) Kuningan


















